
- Nilai Kejujuran
Beberapa waktu lalu Bangsa Indonesia sempat dikejutkan oleh berita penangkapan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar terkait dengan dugaan pembunuhan yang dilakukan terhadap Nasruddin Zulkarnain yang merupakan direktur perusahaan PT. Putra Rajawali Banjaran (PRB). Menurut hasil penyelidikan dari pihak kepolisian, mantan ketua KPK tersebut memiliki keterkaitan dengan kasus tersebut sebagai aktor utama dibalik pembunuhan direktur perusahaan yang merupakan cucu dari perusahaan BUMN Rajawali Nusantara Indonesia. Seiring jalannya proses penyelidikan, kasus ini terus melebar hingga pada akhirnya menyeret beberapa nama aktor intelektual dimana salah satu diantara aktor intelektual tersebut adalah seorang pejabat tinggi di Kepolisian Republik Indonesia berinisial WW.
Tidak lama kemudian, pihak kepolisian kembali melakukan pemeriksaan terhadap dua pimpinan KPK lainnya yaitu Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah. Kedua tokoh penting di KPK ini pada akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dimana pasal yang dikenakan belum jelas. Mulai dari penyelewengan kekuasaan hingga indikasi melakukan korupsi dengan menerima suap membuat KPK harus kembali lagi kehilangan pemimpin. Dari total lima orang pimpinan KPK, kini tinggal dua orang lagi yang masih berdiri tegap dibawah bendera KPK, yaitu Muhammad Yasin dan Haryono Umar.
Sekarang yang menjadi berita terbaru adalah adanya desakan-desakan dari berbagai pihak seperti Indonesian Corruption Watch (ICW), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla sendiri untuk sesegera mungkin menyelesaikan kasus yang menimpa dua orang pimpinan KPK non aktif ini. Tentunya apa yang dilakukan oleh beberapa pihak diatas didasari dengan alasan yang kuat karena lamanya jangka waktu proses penyelidikan yang dilakukan menimbulkan kesan bahwa pihak kepolisian sedang mencari-cari kesalahan apa yang tepat dikenakan kepada dua orang berpengaruh di KPK.
Cerita saya diatas merupakan salah satu contoh nyata yang menggambarkan bagaimana situasi negara kita saat ini. Dari kacamata pribadi, saya menilai bahwa sekarang negara kita tercinta sedang mengalami yang namanya krisis integrasi atau kejujuran. Saya yakin diantara teman-teman blogger semua pasti ada yang sependapat dengan apa yang saya ungkapkan diatas. Tarik menarik kepentingan yang terjadi diatas sana menyebabkan kita yang hanya seorang rakyat jelata tidak tahu lagi mana yang harus dipercayai. Si A bilang si B yang salah, si B menuduh si C yang memberi perintah, si C membuka kedok bahwa ada permainan yang dilakukan oleh si A dan si B sudah menjadi skenario umum yang sering kita dengar belakangan ini.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa salah satu nilai yang menjadi ciri jati diri bangsa Indonesia adalah nilai KEJUJURAN yang dimiliki oleh masing-masing individu rakyat Indonesia. Kejujuran dan kepolosan yang dimiliki oleh para pejuang-pejuang kita dahulu mampu mengangkat bangsa kita menjadi sebuah bangsa yang besar dan merdeka hingga saat ini. Hanya satu hal yang mereka pikirkan saat itu yaitu bagaimana membuat bangsa ini menjadi negara yang merdeka dan berdaulat.
Akan tetapi, disaat kita telah menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat, justru nilai kejujuran yang menjadi pondasi dasar tegaknya bangsa ini lambat laun mengalami penurunan. Banyak diantara para pejuang-pejuang intelektual saat ini memiliki pemikiran yang berbeda dengan para pejuang-pejuang terdahulu. Bukannya memikirkan apa yang harus dilakukan agar negara ini bisa terus merdeka dan berdaulat, justru yang jadi pikiran mereka saat ini adalah bagaimana caranya untuk memperkaya diri dengan menggunakan uang rakyat yang ada. Hal ini terbukti dengan banyak kasus-kasus korupsi yang terjadi dimana hanya demi memperoleh sejumlah uang, mereka rela menggadaikan harga diri mereka sebagai orang yang berintegritas.
Terkadang saya bertanya dalam hati, seberapa mahalkah nilai dari sebuah kejujuran yang kita miliki? Apakah 100 ribu, 1 juta, 100 juta, 1 milyar, atau 1 trilyun sekalipun? Ya mungkin jawabannya akan bervariasi tergantung pribadi masing-masing. Bagi yang merasa harga dirinya bisa dinilai dengan sejumlah uang, mungkin mereka akan menjawab dengan menyebutkan jumlah nominal tertentu. Sedangkan bagi yang merasa harga dirinya tidak ternilai, tentunya mereka akan menjawab bahwa SEBUAH KEJUJURAN TIDAK AKAN TERNILAI HARGANYA. Intinya, jika kita ingin mengembalikan jati diri bangsa ini sebagai bangsa yang memiliki tingkat kejujuran yang tinggi, maka kita harus belajar untuk bisa menjadi pribadi yang berintegritas tinggi. Mulailah dariĀ jujur kepada diri sendiri dan orang lain. (DW)
Popularity: 4%
RSS Feed
Twitter





October 8th, 2009
admin
Posted in
Tags: 



























Betul mas, kejujuran tidak akan ternilai harganya.
Jangan gadaikan harga diri kita demi sebuah kebohongan.
Btw link blog mas sdh saya pasang di page blogroll saya.
Terimakasih sebelumnya, semoga silaturahmi diantara kita akan senantiasa terjalin dengan baik.
@ Masded : Ma kasih kembali buat backlinknya mas. Insya Allah melalui media blog kita bisa terus menjalin tali silaturahmi. Amin…
Mengembalikan Jati Diri Bangsa´s last blog ..Mengembalikan Jati Diri Bangsa dengan Sebuah Blog
halo… link anda udah terpasang di http://www.andisetiawan.com/link-exchange
[...] sidang perdananya. Seperti yang telah saya tuliskan dalam postingan saya sebelumnya mengenai Nilai dari Sebuah Kejujuran, pada tulisan kali ini saya juga memiliki harapan yang sama terhadap tokoh-tokoh ini. Semoga saja [...]
[...] beliau-beliau dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Hanya satu pesan saya yaitu junjung tinggi NILAI KEJUJURAN karena itu merupakan salah satu jati diri bangsa Indonesia. (Dikutip dari berbagai [...]
[...] kepada kami sebagai rakyat yang tidak tahu apa-apa mengenai hukum yang berlaku bahwa masih ada NILAI KEJUJURAN di negeri ini. Jangan buat kami ragu dengan sistem peradilan yang ada. Bagi rekan-rekan blogger [...]