Sebelum masuk pada inti tulisan, sebagai pembuka, penulis terlebih dahulu ingin menyampaikan jika penulis merupakan ‘warkopholic’, itu tak lain karena penulis penikmat loyal minuman yang berasal dari daratan afrika ini.

Sejarahnya kenapa bisa seketergantungan ini dengan kopi, tak lain karena penulis  berasal dari keluarga besar yang hobi ‘ngopi’. Dirumah dari pagi, siang hingga malam selalu terseduh kopi dalam teko dari bahan seng khas ‘jadul’.

Penulis menarik kesimpulan, Kopi adalah minuman hangat yang menyatukan. Minuman yang seduhannya menjadi budaya nusantara.

Kebiasaan penulis nangkring di warung kopi ini jauh sebelum ‘mode’ santai di warkop ala kekinian menjadi ‘trend’, jauh pula sebelum zaman warkop menggurita dengan ‘wifi’ sebagai syarat utama. Jadi, hobi nangkring di warkop versi penulis ini, bukan karena latah, bukan pula karena gaya-gayaan, melainkan murni kebutuhan. hehe.

Penulis ingat saat awal masuk kuliah disalah satu kampus swasta di Kota Pontianak, penulis sudah langganan dan ‘cs kental’ dengan ‘Alau’ pedagang kopi di areal kampus, warkopnya kecil namun bersahabat. Dan sampai akhir masa studi, warkop tetap jadi destinasi penulis meregang ‘urat syaraf’. Hehe.

Penulis juga sering nangkring di warkop yang sekarang boleh dikatakan ‘branded’ dan melegenda di Kota Pontianak, Kalbar, dan bahkan sudah meng-Indonesia. Kebetulan saat itu, masa-masa awal warkop tersebut buka di sekitar kampus penulis. masih satu ruko, belum sebesar, seramai, selengkap fasilitasnya dan senyaman serta semahal sekarang. Hehe.

Namun, sejak warkop lekat dengan tempat mangkalnya para penikmat ‘game online’, penulis merasa ada ‘denyut nadi’ berbeda dari warkop ini. Perubahan suhu di warkop tersebut jua lah yang akhirnya mengurangi ‘intensitas’ penulis santai di warkop lagi. Walau bukan berarti ‘off’ nyeruput kopi. Seduhan tetap jalan. He

Berkenaan dengan situasi ini, awalnya penulis menyesuaikan, tetapi lama kelamaan kalah mental, jadi terpental. Hehe. kalaupun harus ‘nge-warkop’ pilih-pilih warkop yang aman, terkendali dan yang tetap menghadirkan nuansa lama warkop sejati (ini hanya bisa diterjemahkan para pecinta warkop). Hee.

Penulis merasakan, warkop yang dulu penuh kehangatan memupuk persahabatan, tempat mengukir canda tawa, tempat mendengar cerita fiksi yang tinggi nilai khayalan dan harapan, sekaligus mimbar bebas rakyat kecil berceloteh meluapkan isi dada dan kepalanya, kini berubah menjadi tempat yang menyeramkan untuk telinga, sumbang apabila terdengar dan berkesan mirip ‘kebun binatang’.

Betapa tidak, umpatan kata ‘Anj*ng’ atau ‘Anjr*t’ atau agak diperhalus jadi ‘Anjay’ yang keluar dari penikmat game online entah secara sadar atau tidak, seolah sudah menjadi budaya. Permainan yang harusnya menghadirkan rasa senang dalam diri dan menghibur berubah menjadi sarana mengumpat atau mengeluarkan kata-kata kotor.

Entah dari mana asal muasal penyebutan kata tersebut dalam permainan game online, apa keistimewaannya, apa pengaruhnya dan dimana kebanggannya. Sejauh ini masih menjadi misteri bagi penulis yang membuat penasaran.

Kebiasaan memelihara binatang dalam mulut tersebut juga tidak hanya berlaku di warkop-warkop belaka. Melainkan di semua tempat. Dari kota sampai ke kampung. Mirisnya, penyebutan kata tersebut hampir menjadi kebiasaan sehari-hari dalam bertutur, terlepas dalam keadaan tidak sedang bermain game online, bahkan dalam kegiatan pembelajaran. Semisal contoh, saat reflek atas kejutan, reaksi atas perilaku teman, luapan kekesalan dan lain sebagainya.

Memang sedari dulu, di lingkungan masyarakat pun sudah ‘familiar’ umpatan menggunakan frasa binatang tersebut sebagai ungkapan kekesalan. Tetapi penulis merasa, sejak zaman game online sepertinya semakin menjamur, menjadi ‘trend’ bahasa menyasar generasi muda dan seperti sistematis.

Sebagai pribadi yang mulai beranjak tua, sebagai orang tua dari anak-anak dan sebagai seorang pendidik, penulis merasa resah, gelisah atas kebiasaan baru dalam bertutur pada generasi saat ini. Menurut penulis adanya kemunduran peradaban, terutama dalam hal akhlak dan etika berbicara. Perilaku tersebut juga bertentangan dengan budaya ketimuran dan norma agama.

Anj*ng yang merupakan simbol pragmatisme atau tunduk total kepada yang memberi makan dan buas kepada orang selain majikan, sekaligus binatang najis, tetapi menjadi objek pengganti yang disematkan kepada manusia. Seolah-olah teman sejawat atau sesama sudah tidak punya harga diri sehingga disetarakan dengan seekor anj*ng.

Bukankah dalam agama, Nabi Muhammad SAW berpesan dalam hadistnya, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih). Pesan moral yang seharusnya menjadi rambu-rambu kita sebagai umat beragama sebelum berucap.

Bahkan, Allah SWT dalam surah Al Hujuraat ayat 11 tegas melarang memanggil nama buruk bagi sesama manusia.“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Menurut penulis hal ini harus menjadi perhatian semua pihak. Mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia pendidikan terutama dan utama orang tua. Sebagian mungkin menganggap hal sepele. Tetapi ingat, kata adalah cermin dari pikiran dan hati. Orang lain dapat mengenal siapa kita dari apa yang keluar dari mulut atau tutur kata.

Peribahasa melayu mengatakan “Bahasa Mencerminkan Suatu Bangsa”. Jangan sampai kedepan Bangsa Indonesia yang terkenal memiliki nilai luhur, sopan santun berubah menjadi bangsa kerdil tanpa etika.

Jangan sampai pula generasi muda menjadi kehilangan karakter bangsa. Apalagi kedepan kita menghadapi bonus demografi, dan justru membawa dampak negatif bagi negara ditengah persaingan global yang semakin ketat dan tantangan zaman yang semakin pekat.

Penulis; Muhammad Azmi (Guru SMP Negeri 3 Parindu, Kab. Sanggau)