Mau nge-ghibah-in negeri ginseng, Korea Selatan (Korsel) ah…Boleh ya.. Negeri para K-Pop yang membuat banyak ABG kita terpesona. Negeri Drakor yang memuliakan kecantikan dan kegantengan.

Negeri yang makmur berkat kecerdasan dan kecanggihan teknologinya. Namun, di balik gemerlap itu, ada sisi gelapnya. Sejumlah pengamat memperkirakan tahun 2750, negeri K-Pop ini akan musnah. Lho kok?

Belajar dari K-Pop

Musnah bukan karena dihantam bom nuklir dari tetangganya, Korea Utara, bukan. Musnah karena ulah warganya sendiri. Apa saja indikator kemusnahan Korsel?

Pertama, biaya hidup semakin tinggi. Sementara tuntutan hidup harus cantik untuk ceweknya dan ganteng untuk cowoknya. Mereka rela irit makan asal tampil menawan.

Akibat lainnya, para muda-mudinya malas mau nikah. Karena, biaya nikah sangat mahal. Kebiasaanya di sana, baru bisa nikah harus punya apartemen atau rumah dulu. Untuk pekerja biasa, butuh 84 tahun baru punya apartemen. Mereka asyik ngejomblo.

Kedua, lapangan kerja semakin kecil. Padahal, ada perusahaan kelas dunia di sana. Ada Samsung, Kia, Hyundai, dsb. Yang bekerja di sini rata-rata tamatan S2, itupun hanya bisa terserap 5 persen. Selain itu, muda-mudinya terobsesi teknologi tinggi, main games, dan ingin hidup mudah tanpa harus capek.

Produktivitas mereka menjadi rendah. Maunya mager melulu.

Ketiga, semakin marak No Kids Zone. Orang Korsel mulai phobia dengan bocil alias anak kecil. Banyak resto atau tempat nongkrong melarang bocil masuk. Alasannya, bikin berisik. Mereka tak mau diganggu dengan tangisan bocil, anak lari sana lari sini. Fenomena ini membuat warganya malas buat anak.

Merepotkan

Keempat, wanita karier gajinya lebih tinggi dari pria. Ini memicu para wanita di sana lebih mementingkan karier dari pada menikah, apalagi sampai punya anak. Karier menjadi segalanya. Di sisi lain, seks atau melakukan hubungan tanpa nikah, bukan lagi dianggap zina. Boleh asal suka sama suka.

Wajar apabila para wanita di sana pernah melakukan seks dengan banyak pria. Seks hanya untuk menyalurkan birahi, bukan untuk buat anak.

Kelima, punya anak bisa rugi besar. Untuk mencukupi hidup sendiri saja susah, apalagi punya anak. Mikirkan masuk TK sampai perguruan tinggi, belum lagi kursus atau les nya. Kebutuhan kesehatan, pakaian, dsb. Bikin pusing dan akhirnya lebih memilih tak punya anak. Anak menjadi beban hidup.

Keenam, Yolo. Sebuah kebiasaan hidup suka sendiri. Pandangannya, hidup hanya sekali, jadi nikmati sepuasnya dengan sendiri. Gaji yang didapat untuk dinikmati sendiri. Kenapa harus menikah atau punya anak, toh mati juga sendiri.

Indikator di atas, bila terus berjalan, Korsel bisa punah tahun 2750. Setiap 10 tahun satu generasinya hilang. Pada akhirnya semua hilang karena tidak ada lagi yang mau nikah dan punya anak.

Regenerasinya Berhenti

Itu Korsel, bukan negeri kita wak. Kita bersyukur, orang kita masih banyak jago buat anak. Bahkan, ada yang jago kawin. Indonesia pun menjadi negara keempat sebagai penduduk terpadat di dunia setelah India, Cina, dan Amerika Serikat. Soal kepunahan, masih jauh lah.

Warga Korsel sangat materialistik. Rezeki didapat dari kerja keras. Berbeda dengan kebanyakan pemahaman orang kita, rezeki itu dari Tuhan. Setiap orang sudah ditentukan rezekinya. Lho mau kerja kepala jadi kaki, kaki jadi kepala, belum waktunya kaya, tetap gitu-gitu saja.

Soal banyak anak, Tuhan yang mengaturnya. Ada di kampung punya anak sampai 12, semua bisa hidup sukses. Tanda rezekinya Tuhan yang menentukan. Itu sebabnya banyak orang tua slow saja buat anak. Ia tak pikirkan nanti gimana anaknya. Karena, ia yakin Tuhan yang menentikan nasib seseorang.

Penutup

Nah, di sini pentingnya peran agama. Ia tidak khawatir soal hidup di dunia. Harus berusaha dulu, setelah itu ia pasrahkan hidupnya pada Tuhan. Dapat berapa pun ia syukuri.

Kadang ada keanehan, gaji suami cuma dua juta sebulan, bisa mencukupi untuk makan satu istri dan tiga anak. Kalau dihitung secara matematika ala orang Korsel, mustahil cukup.

Faktanya, banyak orang kita dengan gaji seadanya, masih bisa bertahan hidup. Tetap enjoy menjalani bahtera rumah tangganya. Memang tidak sesejahtera orang Korsel, tapi orang kita tetap mau produksi anak di tengah keterbatasannya. Keberlangsungan generasi Indonesia terjaga dengan baik.

Kemungkinan punah tidak mungkin, kecuali kiamat tiba lebih cepat.

Apakah kita mau meniru orang Korsel? Dalam etos kerja, disiplin, semangat ingin menguasai teknologi, boleh ditiru. Tapi, dalam hal menikah dan buat anak, jangan ditiru.

Orang kita masih percaya bahwa Tuhan menentukan nasib seseorang. Sehingga wajar tingkat kematian bunuh diri di negeri kita sangat rendah bila dibandingkan negeri K-Pop. Ngapain susah-susah mikirkan hidup, sing penting bisa ngopi wak. (RJ)