Insyaf Menjelang Ajal, Introspeksi untuk Diri Sendiri

Erina Indriana

0 Comment

Link
Ilustrasi Kawasan Kostan di Sekitaran Stasiun Kereta Api

BloggerBorneo.com – “Ga ngamar mas? ngamar yuk, mumpung masih perawan nih gua.”

Masih perawan dalam bahasa Wanita malam adalah belum terjamah malam itu.

“Berapa?”

“Dua ratus aja deh.”

“Wih, mahal amat, gua cuma punya uang seratus ribu.”

“Idih, keren-keren cuma bawa duit cepe, ya udah ga apa-apa cepe, tapi kamar loe yang bayar ya.”
Pria itu mengangguk, dan Ita langsung menggandengnya turun dari atas rel kereta api menuju kost-kosan di bawah, diikuti oleh tatapan Andy suami dari Ita.

Tidak lebih dari dua belas menit kedua insan itu keluar dari kamar kost-kosan.

“Terimakasih ya mas, besok kalo kesini lagi cari gua aja ya, nanti gua kasih diskon deh.” Ita tersenyum manja.

Sepeninggal lelaki itu Andy turun dari rel menghampiri Ita.

“Berapa?”

“Pekgo.” Ita memperlihatkan uang sejumlah seratus lima puluh ribu.

“Sini uang sewa kamarnya lima puluh.” Andy mengambil selembar uang lima puluhan di tangan Ita.

“Loe mau makan?” Tanya Andy.

“Iya boleh.”

“Gua beliin sate ya?”

Ita mengangguk dengan senyum manis di bibirnya.

Kalian mungkin berpikir kehidupan macam apa yang mereka jalani, sungguh waktu pertama mengenal mereka, akupun berpikir seperti itu.

Andy adalah residivis kasus narkoba, sudah beberapa kali ia tertangkap karena penyalahgunaan obat terlarang.

Namun kecanduannya pada narkoba sudah hilang semenjak ia menikahi Ita.

Andy selalu menceritakan semua masalah hidupnya padaku, tentang apapun itu, karna memang ia tak banyak memiliki teman, siapa yang mau berteman dengan lelaki yang menjual istrinya?

Kau tak akan menyangka bila kukatakan bahwa Ita itu adalah anak seorang Ustadz kampung.

Ya, ayah Ita adalah guru ngaji yang selalu sibuk menghadiri panggilan pengajian, hingga lupa ia memiliki anak wanita yang telah hamil di luar nikah.

Seperti membuang kutil di mata kaki, Ita diusir ayahnya demi nama baik, lalu Ita terdampar di lokalisasi pinggir kereta api jembatan gantung Kota setelah kandungannya keguguran, lalu ia berkenalan dengan Andy yang pemadat.

“Ta, andai kita tobat, apa Allah mau ngampunin dosa-dosa kita ya?”

Tanya Andy yang berbaring di samping Ita.

“Selama kita masih bernyawa, Allah pasti akan mengampuni dosa hambanya, itu yang gua tau dari bokap gua.” Ita miringkan tubuh menghadap suaminya.

“Gua pengen berhenti hidup kaya gini Ta.”

“Serius?” Wajah Ita terlihat antusias.

“Loe pikir gua ga cemburu ngeliat loe tiap malem ngelayanin laki-laki laen, gua pengen hidup normal Ta, kaya orang-orang.” Terlihat di pojok mata Andy airmata mengalir.

“Gua juga sama Bang, sebenernya udah gerah hidup kaya gini, tiap malem pura-pura menikmati setiap sentuhan laki-laki yang bahkan gua ga kenal siapa namanya, rasanya badan gua kaya bangkai yang bernyawa tapi tanpa perasaan.”

“Loe setuju kalau kita mulai usaha baru?”

“Iyalah, gua setuju banget, ayo bang kita pasti bisa.” Ita bangun dari tidurnya duduk menghadap suaminya dengan antusias.

“Tapi usaha apa?” Tanya Ita.

“Gua mau jualan ikan asin cucut kaya bang Ahmad Mustopa belanjanya di pengasinan harganya cuma empat puluh ribu sekilonya, terus kita jualin lagi keliling pake motor.” Terang Andy.

“Ide bagus tuh bang, bagai mana kalau besok kita belanja, gua ada tabungan, kita pake modal aja.”

“Iya, gua juga ada tabungan, mulai besok ga adalagi istri yang jual diri, mulai besok loe adalah istri terhormat dari Andy.” Andy memeluk istrinya yang disambut hangat oleh Ita.

Namun Manusia hanyalah mampu berencana, Tuhan jualah yang menentukan.

Andy dan Ita tak pernah sampai ke pengasinan ikan kali baru.

Motornya terseret kontainer hingga keduanya tewas di tempat.

Tak banyak orang yang mendapatkan hidayah di akhir hayatnya.

Tak banyak orang yang terbersit untuk bertobat di akhir hayatnya.

Tak banyak orang yang ingin keluar dari jerat dosa di akhir hayatnya.

Kebanyakan mereka menikmati segala dosa hingga tak sadar, jiwa telah terenggut dari raga.

Selamat jalan kawan, semoga tobatmu diterima dan diampuni segala dosa-dosa.

Aamiin.

Salam.

Sumber: Ahmad Mustopa

Related Post

Don`t copy text!