4 Calon Manajer SPPI Gugur, Satu Catatan dari Seorang Mantan Business Assistant
Blogger Borneo pernah menjadi bagian dari Program Koperasi Merah Putih sebagai Business Assistant.
Dapat cukup dipahami bagaimana program ini dirancang dengan tujuan besar: membangun ekonomi desa melalui koperasi yang profesional, modern, dan dikelola oleh sumber daya manusia muda yang kompeten.
Oleh karena itu, kabar meninggalnya empat calon manajer SPPI Koperasi Merah Putih bukan sekadar berita bagi saya.
Mereka adalah orang-orang yang memiliki mimpi yang sama—mengabdi, membangun desa, dan menjadi bagian dari perubahan.
Empat nama itu kini tinggal kenangan.
- Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
- Novia Rahmadhani Sihotang
- Yonanda Muhammad Taufiq
- Anisa Muyassaroh
Kepergian mereka menyisakan duka yang mendalam, sekaligus pertanyaan yang seharusnya dijawab secara terbuka.
Mereka Datang untuk Mengabdi, Bukan Menghadapi Risiko Kematian
Sebagian besar peserta SPPI berasal dari latar belakang akademik yang beragam.
Mereka mendaftar karena percaya bahwa program ini dapat menjadi wadah untuk berkontribusi kepada masyarakat melalui pengelolaan koperasi desa.
Sebagai seseorang yang pernah bekerja di lingkungan Koperasi Merah Putih, saya tahu bahwa tantangan pekerjaan di lapangan memang tidak mudah.
Dibutuhkan disiplin, kepemimpinan, kemampuan komunikasi, dan ketahanan mental.
Namun ketika mendengar bahwa proses pembentukan calon manajer dilakukan melalui latihan dasar kemiliteran, saya memahami alasan yang disampaikan pemerintah: membentuk karakter, kedisiplinan, dan jiwa kepemimpinan.
Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, apakah pelaksanaan pelatihan tersebut sudah memperhitungkan keselamatan setiap peserta secara maksimal?
Karena pada akhirnya, tujuan membangun karakter tidak boleh mengorbankan keselamatan manusia.
Empat Korban Mengubah Cara Publik Melihat Program Ini
Satu korban mungkin dianggap musibah.
Dua korban mulai memunculkan kekhawatiran.
Tiga korban membuat publik bertanya.
Empat korban menjadikan evaluasi sebagai sebuah keharusan.
Terlepas dari penyebab medis yang telah disampaikan pemerintah, mulai dari heat stroke, henti jantung, hingga kondisi kesehatan tertentu, masyarakat tetap membutuhkan jawaban yang lebih menyeluruh.
Bagaimana proses seleksi kesehatannya?
Bagaimana pengawasan medis selama pelatihan?
Bagaimana prosedur penanganan darurat ketika peserta mulai menunjukkan gejala?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi agar kejadian serupa tidak terulang pada peserta berikutnya.
Jangan Biarkan Mereka Hanya Menjadi Angka
Dalam setiap program nasional, angka sering kali menjadi ukuran keberhasilan.
Berapa desa yang terbentuk.
Berapa koperasi yang berdiri.
Berapa peserta yang direkrut.
Namun di balik semua angka itu ada manusia.
Ada keluarga yang melepas anaknya dengan harapan pulang membawa kebanggaan.
Ada orang tua yang menunggu kabar kelulusan, tetapi justru menerima kabar duka.
Sebagai mantan Business Assistant, saya berharap Program Koperasi Merah Putih tetap berjalan dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Namun saya juga berharap keselamatan peserta menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pelaksanaan program.
Karena program sebesar apa pun tidak akan pernah sebanding dengan nilai satu nyawa manusia.
Sebuah Harapan
Saya percaya setiap program pemerintah selalu memiliki tujuan baik. Tetapi tujuan baik harus dibarengi dengan sistem yang mampu melindungi setiap orang yang terlibat di dalamnya.
Kepergian Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, Novia Rahmadhani Sihotang, Yonanda Muhammad Taufiq, dan Anisa Muyassaroh semoga menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari target yang tercapai, tetapi juga dari kemampuan negara menjaga keselamatan para pengabdinya.
Semoga keempat almarhum dan almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Yang tidak kalah penting, semoga evaluasi yang dilakukan benar-benar menghasilkan perbaikan nyata, sehingga tidak ada lagi keluarga yang harus kehilangan anaknya dalam perjalanan mengabdi kepada bangsa. (DW)


