Online Exclusive PO ASUS TUF Gaming 2026

Iblis Tidak Pernah Berkuasa Atasmu, Lalu Mengapa Kita Masih Menyalahkannya?

Dwi Wahyudi

0 Comment

Link
Pertarungan antara Kebaikan dan Kejahatan

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, Ada satu gambaran yang sering tertanam di kepala banyak orang. Neraka itu kerajaan iblis.

Seolah-olah di sana ada singgasana kegelapan, dan iblis duduk sebagai raja. Gambaran itu populer. Tetapi Al-Qur’an tidak pernah menggambarkan demikian.

Iblis Tidak Pernah Berkuasa Atasmu

Di dalam Islam, neraka bukan kerajaan iblis.

Allah berfirman tentang penjaga neraka:

“Dan mereka berseru: Wahai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja. Dia menjawab: Sesungguhnya kamu akan tetap tinggal di dalamnya.” QS Az-Zukhruf 43:77

Penjaga neraka adalah malaikat bernama Malik. Bukan iblis. Bukan syaitan. Bukan makhluk pembangkang.

Iblis tidak memerintah di sana. Ia tidak punya kekuasaan. Ia bukan penguasa. Ia adalah tawanan.

Makhluk yang sering kita sebut “setan” dalam Islam bernama Iblis. Sedangkan syaitan bukan nama, melainkan peran. Artinya yang membangkang, yang menjauh, yang membisikkan, yang menipu.

Dan yang lebih penting, Iblis tidak pernah diberi kekuasaan atas manusia.

Ketika ia membangkang, ia hanya meminta satu hal: waktu.

“Ia berkata: Beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” QS Al-A’raf 7:14

Ia tidak meminta kuasa untuk menghukum. Tidak meminta kerajaan. Tidak meminta kendali. Ia hanya meminta kesempatan untuk menggoda.

Dan Allah menjelaskan batasannya dengan sangat tegas:

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka.” QS Al-Hijr 15:42

Perhatikan kalimat itu. Tidak memiliki kekuasaan.

Syaitan tidak bisa memaksa. Tidak bisa menciptakan akibat. Tidak bisa menentukan takdir. Ia hanya mengajak.

Dan pada hari kiamat nanti, ia sendiri akan mengakui hal itu.

Yang Menentukan adalah Pilihan Manusia Sendiri

“Dan berkatalah syaitan ketika perkara telah diselesaikan: Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Dan sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekadar aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku.” QS Ibrahim 14:22

Kalimat ini harusnya mengubah cara kita memandang hidup.

“Aku tidak punya kekuasaan atasmu. Aku hanya mengajak, dan kamu yang memenuhi.”

Berarti selama ini, yang menentukan bukan iblis. Bukan bisikan. Bukan godaan.

Yang menentukan adalah pilihan.

Ada hadis yang menyebutkan bahwa Iblis memiliki singgasana di atas air. Itu bukan simbol kekuasaan atas neraka. Bukan kerajaan. Bukan otoritas. Itu adalah pusat koordinasi tipu daya.

Bandingkan dengan Arsy Allah.

“Ar-Rahman bersemayam di atas Arsy.” QS Taha 20:5

Arsy Allah tinggi, kokoh, abadi. Singgasana Iblis disebut berada di atas air, sesuatu yang tidak stabil, mudah berguncang, tidak tetap.
Yang satu mengatur realitas. Yang satu bertahan dari perhatian.

Memberikan Kesempatan kepada Manusia untuk Bertobat

Saudara-saudaraku,

Ini bagian yang penting. Bagian yang menghapus rasa takut yang salah, dan menggantinya dengan tanggung jawab.

Iblis tidak menyeret manusia ke neraka.

Manusia sampai di sana setelah melewati banyak kesempatan untuk kembali. Setelah berkali-kali menunda taubat. Setelah berkali-kali berkata “nanti”.

Dan ketika mereka sampai, Iblis tidak akan membela mereka. Ia akan berlepas diri.

Karena sejak awal, ini bukan tentang kekuasaan.

Ini tentang arah.

Islam tidak mengajarkan bahwa kejahatan adalah sebuah kerajaan besar yang menguasai hidup kita.

Islam mengajarkan bahwa kejahatan adalah pilihan kecil yang diulang terus menerus sampai menjadi jalan.

Jika syaitan tidak pernah punya kuasa, maka perlawanan selalu mungkin.

Jika ia hanya membisikkan, maka kita selalu bisa menolak.

Dan di sinilah letak solusi yang sering kita lupakan: shalat.

Shalat Bukan Sekadar Ritual

Shalat adalah Penguat Arah.

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” QS Al-Ankabut 29:45

Allah tidak mengatakan shalat menghancurkan syaitan. Allah mengatakan shalat mencegah kita dari mengikuti arah yang salah.

Karena sejak awal, pertempuran ini bukan soal kekuatan. Ini soal pilihan yang diulang setiap hari.

Setiap kali kita berdiri menghadap kiblat, kita sedang menegaskan ulang arah hidup kita.

Setiap kali kita sujud, kita sedang mematahkan kesombongan yang dahulu membuat Iblis jatuh.

Penutup

Di akhir tulisan ini, satu hal yang harus dipahami adalah…

Iblis jatuh karena enggan sujud. Kita bangkit karena mau sujud.

Itulah perbedaannya.

Maka jangan lagi takut seolah-olah ada kerajaan gelap yang menguasai hidup kita. Tidak ada. Yang ada hanyalah bisikan, dan ada hati yang bisa memilih.

Dan selama nafas masih ada, arah masih bisa diubah.

Semoga Allah menjaga hati kita tetap jernih, memberi kita kekuatan untuk memilih yang benar, dan menjadikan kita hamba-hamba yang tidak terpedaya oleh bisikan yang sebenarnya lemah.

Aamiiin.

Sumber: Bang Arief Jak

Related Post

Leave a Comment