Menghadapi PHK Massal: Mengapa “Pindah Jalur ke Bisnis Kuliner” Tidak Selalu Menjadi Solusi Selamat
Beberapa tahun terakhir, berita soal PHK massal bukan lagi hal yang asing di telinga kita.
Data klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) mencatat kenaikan signifikan dari 57.261 pekerja pada 2024 menjadi 98.127 pekerja pada 2025, salah satunya akibat berhentinya operasional raksasa industri seperti Sritex.
Pindah Jalur ke Bisnis Kuliner
Namun, fenomena ini tidak berhenti di balik pintu gerbang pabrik. Ketika sebuah industri tutup, efek dominonya menjalar ke warung makan, kos-kosan, pedagang sayur, hingga bengkel di sekitarnya.
Satu kawasan industri adalah mesin ekonomi lokal. Saat mesin itu mati, satu ekosistem ikut kehilangan daya beli.
Refleks Bertahan Hidup dan Jebakan Low Barrier to Entry
Pertanyaan terbesarnya: Apa yang dilakukan orang setelah kehilangan pekerjaan tetap?
Sebagian mencari pekerjaan baru, sebagian pulang kampung, dan sisanya bertahan hidup dengan tabungan atau pesangon.
Ketika proses pencarian kerja tak kunjung membuahkan hasil, naluri bertahan hidup mengambil alih. Uang yang tersisa harus diputar, dan jawaban paling intuitif bagi banyak orang adalah jualan makanan.
Tentu tidak ada yang salah dengan pilihan ini. Bisnis kuliner memiliki barrier to entry yang relatif rendah:
- Mudah Dipahami: Produk dekat dengan kebutuhan harian.
- Modal Fleksibel: Bisa disesuaikan dengan sisa tabungan.
-
Keahlian Dasar Cepat Dipelajari: Lebih praktis dibanding membuka salon atau bisnis sewa properti.
Namun, di sinilah letak jebakannya. Menurut data BPS (2024), sudah ada sekitar 5,28 juta usaha penyediaan makanan dan minuman di Indonesia.
Artinya, ketika seseorang memutuskan berjualan es teh, seblak, atau ayam geprek di lingkungan rumahnya, ia tidak masuk ke lapangan kosong—ia masuk ke pasar yang sangat sesak.
Dinamika Red Ocean di Gang Sempit
Dalam konsep Blue Ocean Strategy yang digagas W. Chan Kim dan Renée Mauborgne, kondisi persaingan yang sesak dan berebut ceruk pasar yang sama disebut sebagai Red Ocean.
Skenarionya sangat riil di lapangan:
- Ratusan pekerja di satu kawasan terkena PHK pada waktu bersamaan.
- Mereka memiliki sisa modal yang mirip dan mengambil keputusan yang sama: berjualan makanan di sekitar tempat tinggal mereka.
-
Jumlah penjual (supply) melonjak drastis, sementara daya beli masyarakat setempat (demand) justru sedang menurun akibat PHK tersebut.
Akibatnya, perang harga tidak terhindarkan. Diskon, porsi diperbesar, hingga buy 1 get 1 dilakukan demi menggaet pembeli.
Omzet mungkin terlihat ada, tetapi keuntungannya tipis—bahkan nihil. Uang pesangon sebesar Rp10–20 juta habis diputar tanpa hasil yang sepadan.
BPS mencatat per Februari 2025 bahwa 59,40% pekerja Indonesia berada di sektor informal.
Ramainya pedagang kaki lima baru di pinggir jalan kerap dianggap sebagai “geliat kewirausahaan”, padahal sering kali itu hanyalah mekanisme bertahan hidup (survival mode) dari dampak hilangnya pekerjaan formal.
Pandangan & Saran Saya: Bagaimana Seharusnya Kita Beradaptasi?
Sebagai praktisi dan pengamat dinamika bisnis, saya melihat ada beberapa langkah yang lebih strategis daripada sekadar ikut-ikutan tren usaha kuliner instan:
1. Eksplorasi Celah Blue Ocean dalam Kuliner
Jika memang ingin masuk ke bisnis makanan, jangan menjual hal yang sama kepada tetangga sebelah.
Sasar pasar yang berbeda: katering perkantoran, pasokan bahan baku industri, makanan beku (frozen food) dengan jangkauan pengiriman luar kota, atau produk tahan lama.
2. Manfaatkan Keterampilan Utama (Core Skill) yang Sudah Dimiliki
Memulai bisnis dari nol sangat berisiko. Alih-alih membuang pengalaman bertahun-tahun di pabrik, konversikan skill tersebut menjadi nilai jual:
- Tim Maintenance: Buka jasa servis alat berat/elektronik.
- Tim Administrasi/QC: Menjadi konsultan pembukuan atau standar mutu untuk UMKM lokal.
- Tim Desain & Gudang: Mengambil proyek freelance desain atau jasa manajemen stok.
-
Tim Sales & Logistik: Membuka jaringan distribusi atau jasa pengiriman lokal.
3. Persiapan Keuangan dan Side Hustle Sejak Aman
OJK menyarankan kepemilikan dana darurat sebesar 3–6 kali pengeluaran bulanan.
Persiapan terbaik menghadapi krisis bukanlah merespons saat krisis itu datang, melainkan membangun side hustle, mengasah skill baru, dan mengamankan dana cadangan jauh sebelum sinyal PHK muncul.
Kesimpulan
Bisnis makanan memang memiliki potensi besar, tetapi modal nekat dan tabungan terakhir tidak cukup untuk bertarung di pasar yang sudah merah pekat.
Luaskan sudut pandang, manfaatkan keahlian unik Anda, dan eksekusi strategi dengan perhitungan yang matang. (DW)


