Selamat Jalan Pak Regol Sang ‘Juru Kunci’ Masjid Raya Mujahidin
Innalillahi Wainnailaihi Roji’un. Sempat kaget ketika melihat foto sosok Pak Regol Sang Juru Kunci Masjid Raya Mujahidin terpampang di status facebooknya Bang Nur Iskandar.
Tentu saja sebagai salah seorang alumni SD Mujahidin Tahun Angkatan 1989, sosok tersebut cukup dikenal dengan gaya bicaranya yang khas.
“Kennek…”
Aksen Jawanya kental. Maksudnya dalam bahasa sehari-hari, kena.
Kosa kata itu akrab dalam kesehariannya. Sebab beliau adalah juru kunci masjid terbesar di Kalbar.
Banyak sekali kunci dan anak kunci pintu dalam database-nya. Mulai dari gembok pagar, sampai pintu “emergency exit” imam di mihrab.
Belum lagi kunci pintu ruang kelas di Perguruan Mujahidin yang punya Taman Kanak-Kanak, SD, SMP, Tsanawiyah, SMA, Aliyah hingga Kantor MUI dan Baznas.
Semua berhubungan dengan Pak Regol dan dia khatam soal kunci utama sampai kunci rahasia. Sudah macam guru besar yang mengampu suatu mata kuliah.
Dari mana bisa hapal? Ala bisa karena biasa. Tapi saya dapat tips dari beliau: sign! Tanda. Kalau ilmu kekinian kita kenal sebagai Ilmu Coding. Beliau pakarnya…
Saya pernah membersamai beliau di gudang kunci sebagai kantornya. Salah satu ruangan yang mepet Kantor Yayasan Mujahidin dengan Kepala Kantor Cq Sekretaris Yayasan Mujahidin H Mawardi Dja’far.
Gudang berukuran 2×3 meter itu mirip bengkel atawa workshop.
“Di antara longgo’an kunci ini adakah kunci surga Pak Regol?” Saya yang SMP Mujahidin 1986-1989 dan lanjut sebagai aktivis Remaja Mujahidin hingga selesai S1 menggoda.
“Kennek,” sautnya, connect.
Insya Allah setiap kunci Masjid Raya Mujahidin adalah arah menuju surga…
***
Saya kenal Pak Regol dari Bapak yang juga salah satu imam Masjid Raya Mujahidin era 1980-an.
Yakni saat sering dibawa bapak ke KUA Kecamatan Pontianak Selatan yang sederet bangunan dengan rumah marbot mesjid.
Rumah marbot ada dua. Satu ditempati Pak Regol dan satu lagi imam mesjid Muhammadiyah yang pakar Bahasa Arab, Lc pertama di Bumi khaTULIStiwa, H Umar Yakob.
Rumah itu diroboh dan pindah ke sisi Dinas Kesehatan Jl Dg Abdul Hadi.
Nama pejuang pendidikan yang putranya Ir H Arifin Hadi adalah arsitek pengembangan Mesjid Raya Mujahidin selain Ir H Said Dja’far.
Di tahun 1973 Salihul Hadi (kadang dibaca Saregol Hadi) merupakan pekerja kayu alias tukang dari Blora, Jawa Tengah.
Project Masjid Raya rampung 1978 diresmikan Presiden Soeharto. Pak Regol terus melanjutkan pekerjaan sebagai juru kunci kepercayaan Ir H Arifin Hadi.
Nama Hadi di belakang Salihul atau Saregol mengadopsi nama ayah Daeng Arifin.
Pak Regol dikabarkan menghembuskan napas terakhir hari ini, Minggu, 6 September 2026 dalam usia 80 tahun.
Saya terima kabarnya dari sahabat di Remaja Mujahidin sekira pukul 11.45. Rumah duka di Tani Makmur – Wono Baru.
Insya Allah dimakamkan di pemakaman muslimin Purnama. Innalilahi wa inna ilaihi roji’un.
***
Mengabdi sejak 1973 di Mesjid Raya Mujahidin Pak Regol begitu kesohor. Sejak Gubernur mantan anggota KNIL Kadaroesno hingga jamaah kampung kenal sama Pak Regol.
Nyaris semua masalah teknis selain kunci pintu dikuasainya. Termasuk sound system dan pompa air yang amat diperlukan bagi wudu ribuan jamaah.
Selain juru kunci dia juga juru air. Tak terkecuali saat pemotongan hewan kurban.
Pak Regol hapal dimana tikar, sajadah hingga kabel yang bertautan saking banyaknya di sejumlah bangunan utama Masjid Raya hingga Perguruan Mujahidin di atas lahan 6.2 Ha.
Bayangkan kawasan Mujahidin 1970-1980-an sangat sepi. Beliau assabiqunal awwalun. Tak pelak kerap beliau merangkap tukang azan. Sesekali terpaksa jadi imam lohor dan Asar…
Kepergiannya adalah kehilangan besar bagi Kalbar. Jasa jasanya tak terhitung bagi umat. Ilmu pengetahuan dan keterampilannya diwariskan kepada takmir dan marbot setelahnya.
Beliau meninggalkan seorang istri, empat anak dan tiga cucu.
Alfatihah untuk perjalanan Pak Regol selanjutnya. Insya Allah Husnul Khatimah.
Semoga wasilah juru kunci mesjid raya menjadi wasilah amal ibadahnya dan kita semua menuju surga.
Amiin ya Robbal ‘Alamiin.



