Home Artikel Jeffrey Lang, Kisah Seorang Profesor Matematika Amerika yang Masuk Islam

Jeffrey Lang, Kisah Seorang Profesor Matematika Amerika yang Masuk Islam

Jeffrey Lang
Image: Hadinur.Net

“Jika Tuhan itu ada, dan Dia punya belas kasih dan sayang, lalu kenapa ada begitu banyak penderitaan di atas bumi ini? Kenapa Dia tidak masukkan saja kita semua ke dalam syurga? Kenapa juga dia menciptakan orang-orang di atas bumi ini dengan berbagai penderitaan?

Pertanyaan itu terus menghantui saya karena saya dibesarkan dalam sebuah keluarga yang memiliki seorang ayah pemabuk, temperamental dan dengan mudah melampiaskan kemarahannya pada ibu saya yang bergitu sabar dan baik.

Untuk apa Tuhan jadikan keadaan seperti ini? Sulit bagi saya mencerna, bagaimana ibu saya yang baik hanya jadi korban kebrutalan ayah saya tanpa bisa melawan. Di mana keadilan Tuhan jika memang Dia ada?”

JEFFREY LANG: APAKAH TUHAN ITU ADA?

Pertanyaan itu terus menggelayuti pikiran Jeffrey Lang sejak kanak-kanak sampai dewasa. Hingga ia pun tak percaya Tuhan itu ada. Karena ia tak melihat efek adanya keadilan Tuhan dalam kehidupan. Sebagai seorang pakar matematika, Jeffrey selalu melihat segala sesuatu secara ilmiah dan logis.

“Saya berusaha mencari jawabannya namun tak kunjung menemukan. Sampai kemudian saya membaca Al Quran yang diberikan oleh salah seorang mahasiswa saya. Saya pikir, apa salahnya saya baca karya seorang manusia bernama Muhammad itu. Mulailah saya membaca.

Dari surat pertama saya pun membacanya dengan seksama. Saya terkejut. Saya seorang yang selalu berpikir logis, dan isi Al Quran semuanya logis. Semua pertanyaan yang saya pendam bertahun-tahun dijawab Tuhan lewat Al Quran dengan begitu gamblang dan simpel.”

Jeffrey, sama seperti kebanyakan orang Barat, berpikir bahwa Al Quran itu karangan atau karya tulis seorang bernama Muhammad.

AL-QUR’AN BUKAN BUATAN MANUSIA

“Saya mulai ragu bahwa Al Quran karangan Muhammad. Sebab bahasanya bukan bahasa manusia yang serba egois dan emosional. Ini bahasa Tuhan. Sebab ketika Adam melanggar larangan Tuhan di surga, Tuhan tidak berbicara dengan emosi seakan-akan Dia rugi atas kedurhakaan Adam.

Tidak. Tuhan bahkan mengampuninya, menyuruhnya turun ke bumi, dan di bumi masih pula dijamin rezeki dan kehidupannya. Tinggal bagaimana nanti Adam menjalankan perannya di bumi, maka balasannya akan ia terima di akhirat.

Itu bahasa Tuhan. Tuhan tidak menunjukkan kerugiannya, justru menunjukkan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Itulah salah satu yang membuat Jeffrey yakin akan kebenaran Al Quran. Bahasa Al Quran bukan bahasa manusia.

“Lalu pertanyaan saya yang bertahun-tahun itu terjawab, kenapa ibu saya dibiarkan jadi korban ayah saya yang kasar? Karena Tuhan ingin menunjukkan bahwa dunia bukanlah tempat mencari keadilan. Terlalu banyak ketidak-adilan di dunia ini.

AKHIRAT SEBAGAI TEMPAT PEMBALASAN

Banyak kezaliman yang dilakukan oleh manusia pada manusia lain. Maka Tuhan siapkan akhirat sebagai tempat menerima balasan bagi ketidak-adilan itu. Maka hanya di sisi Tuhan lah keadilan yang nyata.”

Sungguh, kalimat Jeffrey di atas membuat saya kagum bagaimana ia mencerna isi Al Quran sedemikian rupa. Bagaimana ia menemukan jawaban atas pertanyaannya selama ini, yang ia uraikan dengan logika menarik.

“Saya sangat yakin Al Quran diturunkan untuk semua manusia karena Al Quran berbicara dengan siapa saja, mulai dari orang beriman, orang kafir, orang yang tak percaya agama, semua disapa oleh Al Quran. Islam mudah dipahami oleh siapa saja yang mau mempelajarinya, paling logis dan menyentuh semua aspek kehidupan.

Sungguh saya heran jika ada seorang muslim yang tak pernah serius mempelajari Al Quran yang begitu sempurna ini. Mereka telah kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya, sangat disayangkan. Sedangkan saya begitu yakin dan bersyukur menemukan Islam.”

(Prof. Dr. Jeffrey Lang – Dosen dan Peneliti Bidang Matematika di Universitas Kansas)