Banyak rakyat Malaysia yang terbang berlibur ke Turki setiap tahun tidak menyadari bahwa perusahaan pengelola terminal untuk salah satu bandara internasional tersibuk di Kota Istanbul sebenarnya telah dimiliki sepenuhnya oleh grup Malaysia Airports.
Kisah bagaimana Malaysia Airports Holdings Berhad (MAHB) berhasil menguasai sepenuhnya perusahaan pengelola terminal Bandara Internasional Istanbul Sabiha Gökçen yang terletak di sisi Asia kota bersejarah tersebut bukanlah sebuah perjalanan yang mudah.
Bahkan pada tahun 2014 silam, grup asal negeri tetangga kita ini menghadapi detik-detik yang cukup genting ketika sebuah perusahaan pesaing di Turki sudah menandatangani perjanjian untuk masuk menjadi mitra di bandara tersebut!
Segalanya bermula pada Juli 2007 ketika konsorsium yang beranggotakan MAHB bersama Limak dari Turki dan GMR dari India memenangkan tender konsesi bandara tersebut.
Ketika mereka mulai mengambil alih operasi dan membangun terminal baru pada tahun 2008, MAHB hanya memiliki 20 persen saham, sementara Limak dan GMR masing-masing memegang 40 persen.
Siapa sangka, bandara tersebut berkembang dengan sangat pesat ketika jumlah penumpangnya melonjak dari sekitar 3,79 juta orang pada tahun 2007 menjadi 18,84 juta orang menjelang tahun 2013!
Melihat potensi luar biasa yang ada di depan mata, MAHB langsung menyambar peluang ketika GMR memutuskan untuk menjual kepemilikannya.
Pembelian seluruh 40 persen saham milik grup India tersebut diselesaikan pada April 2014 dengan nilai yang diumumkan sebesar €225 juta, sekaligus menjadikan MAHB sebagai pemegang saham mayoritas dengan penguasaan 60 persen.
Belum lama MAHB menduduki kursi mayoritas tersebut, mitra asal Turki yaitu Limak justru ingin melepaskan sisa 40 persen saham miliknya.
Pada 15 September 2014, sebuah grup pengelola bandara besar dari Turki, TAV Airports, mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani perjanjian dengan Limak untuk membeli blok saham tersebut dengan nilai transaksi mencapai €285 juta atau sekitar Rp4,7 miliar (kurs saat itu mencapai kisaran RM1,2 miliar).

Perjanjian antara Limak dan TAV ini menempatkan manajemen puncak MAHB di Kuala Lumpur dalam situasi serba salah.
TAV bukanlah pemain sembarangan karena saat itu mereka juga mengelola Bandara Atatürk yang merupakan pesaing utama Sabiha Gökçen di Istanbul.
Lebih mengkhawatirkan lagi, analis pasar memperingatkan bahwa jika TAV dibiarkan masuk, perusahaan pesaing itu berpotensi mewarisi hak veto milik Limak sehingga menyulitkan pengambilan keputusan penting apabila kedua pemegang saham tidak sejalan.
Di atas kertas, perjanjian pemegang saham awal sebenarnya memberikan MAHB senjata rahasia, yaitu Hak Utama Pembelian (Right of First Refusal) untuk memintas transaksi tersebut dan membeli sendiri saham Limak pada nilai yang sama.
Masalahnya, MAHB baru saja menghabiskan ratusan juta euro beberapa bulan sebelumnya untuk membeli saham GMR.
Jika ingin memintas TAV, MAHB harus menyediakan dana tambahan hampir Rp5 miliar!
Kekhawatiran investor terhadap beban pembiayaan yang besar serta kinerja lalu lintas penumpang saat itu sempat membuat saham MAHB terkoreksi hingga 2,4 persen pada 17 September 2014.
Menghadapi pilihan sulit antara membiarkan pesaing masuk memegang hak veto atau mencari dana besar dalam waktu singkat, jajaran pimpinan MAHB yang dipimpin oleh Direktur Utamanya saat itu, Datuk Badlisham Ghazali, mengambil keputusan berani.
Pada 23 Oktober 2014, MAHB mengumumkan bahwa perusahaan Malaysia tersebut memilih untuk menggunakan hak utamanya guna mengambil alih sendiri seluruh sisa 40 persen saham Limak!

Pihak TAV kemudian mengonfirmasi bahwa perjanjian awal mereka dengan Limak tidak akan diteruskan setelah hak MAHB tersebut dijalankan secara sah.
Pembelian bersejarah itu disempurnakan pada awal Januari 2015 dengan nilai akhir sekitar €279.2 juta, menjadikan MAHB pemilik 100 persen saham perusahaan pengelola terminal ISG serta perusahaan layanan komersial LGM yang dikelola oleh tim lokal di Turki.
Untuk menyukseskan langkah cepat tersebut, MAHB menggunakan fasilitas pembiayaan sementara terlebih dahulu sebelum berhasil menghimpun dana segar melalui penerbitan saham hak (rights issue) pada Maret 2015 untuk melunasi pembiayaan berkenaan.
Hari ini, setelah lebih dari satu dekade berlalu, keputusan berani pada tahun 2014 tersebut membuahkan skala operasi yang semakin besar.
Menurut catatan resmi Malaysia Airports, Bandara Sabiha Gökçen telah melayani sekitar 49 juta pergerakan penumpang sepanjang tahun 2025!
Bahkan, pada sembilan bulan pertama tahun 2026 saja, otoritas penerbangan Turki mencatat hampir 38 juta penumpang telah menggunakan bandara tersebut, sehingga MAHB kini mengajukan proposal untuk membangun terminal baru menjelang berakhirnya masa konsesi saat ini pada tahun 2032.
Begitulah rumit dan mendebarkannya dunia akuisisi korporat di panggung internasional.

Dari yang mulanya hanya memegang 20 persen saham ketika bergabung dalam konsorsium, keberanian mengambil risiko serta ketepatan menyusun pembiayaan akhirnya memungkinkan grup asal Malaysia ini menguasai keseluruhan perusahaan pengelola terminal di salah satu gerbang udara tersibuk di Turki.
Berbicara mengenai keberanian seorang pemimpin korporat dalam membuat keputusan besar, saya ingin merekomendasikan sebuah buku yang sangat membuka pikiran berjudul Perjalanan Seorang CEO karya Datuk Jake Abdullah terbitan The Patriots.
Melalui 27 bab yang disajikan secara jujur, buku ini mengajak pembaca mengikuti pengalaman hidup beliau dari mencari uang dengan mencuci piring dan menjaga mobil saat berusia 12 tahun hingga berhasil mendaki puncak karier sebagai seorang Kepala Eksekutif.
Pengalaman nyata yang dibagikan di dalam buku ini membantu kita memahami tantangan kepemimpinan, disiplin, dan tanggung jawab besar di balik pengelolaan sebuah organisasi.
Sumber: Mazlan Syafie









