Di Balik Lembar Skripsi: Saat Doa Ibu dan Keringat Menjadi Nilai Tertinggi

Image: facebook.com/rosadi.jamani/

Ruang ujian skripsi kerap kali kita maknai sebagai panggung pembuktian intelektual semata.

Di tempat itulah teori-teori besar dibenturkan, metodologi diuji secara ketat, dan argumentasi akademis dipertahankan hingga berjam-jam.

Namun, kisah dari ruang sidang Andi Amir Fahad Abdillah mengingatkan kita pada satu kebenaran mendasar yang sering terlupakan oleh insan akademis: di balik ketebalan jilid skripsi dan kerumitan istilah metodologis, terdapat denyut nadi manusiawi yang tak bisa diukur sekadar dengan huruf A pada lembar penilaian.

Lulus Ujian Akademik, Melampaui Ujian Kemanusiaan

Andi, seorang pemuda asal Bangkalan, Madura, mempresentasikan penelitian bertajuk “Evaluasi Program Kebahasaan Bilingual sebagai Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia di Pondok Pesantren Al-Mansyur Islamic Boarding School.”

Selama tiga jam sejak pukul 08.30 hingga 11.30 ia berdiri tegap. Ia menjawab berondongan pertanyaan empat penguji dengan tenang, terstruktur, dan rasional.

Tidak ada keraguan dalam ilmunya. Ia menang secara akademis.

Namun, momen paling krusial justru terjadi ketika ruang ujian tak lagi membicarakan metodologi.

Ketika sang pembimbing memintanya menceritakan perjalanan hidupnya hingga sampai di kursi tersebut, Andi terdiam.

Tangannya mengusap coretan kecil pada dokumen skripsinya yang bertuliskan dua kata sederhana: “Doa Ibu.”

Seketika itu pula, dinding pertahanan akademis yang kaku runtuh. Air mata jatuh, dan suasana ruang ujian yang semula penuh ketegangan intelektual mendadak hening seketika.

Para penguji yang semula sibuk mencecar teori, kelabakan mencari selembar tisu.

Di titik itulah kita menyadari bahwa yang sedang diuji hari itu bukan sekadar penguasaan materi, melainkan keteguhan hati seorang anak manusia.

Martabat Perjuangan dan Takdir Anak Rantau

Kisah Andi adalah potret sahih dari perjuangan anak rantau di Nusantara.

Menjelajah dari Madura ke Kediri untuk memperdalam bahasa Inggris, lalu menyeberang ke Kalimantan Barat untuk mengabdi di Pondok Pesantren Al-Mansur, Kubu Raya.

Baca Juga:  Dari Panggung Hiburan ke Pusat Kekuasaan: Ketika Ekosistem Selebritas Menjadi Jalan Baru Politik Indonesia

Di sana, ia tidak hanya menimba ilmu dan mengajar, tetapi juga bertarung dengan realitas ekonomi yang serba terbatas.

Penghasilan mengajar yang tak selalu mencukupi menuntutnya melakoni pekerjaan serabutan. Ia tidak gengsi menjadi tukang panjat pohon rambutan.

Realitas ini memberikan sindiran halus namun tajam bagi dunia pendidikan kita hari ini: di tengah jargon modernisasi pendidikan dan kompetisi global, masih banyak mahasiswa yang harus mempertaruhkan fisik dan keringatnya secara harfiah agar tidak putus di tengah jalan.

“Ketika sebagian orang sibuk mengejar dan memanjat tangga karier di gedung-gedung bertingkat, Andi benar-benar memanjat pohon rambutan demi menyambung asa dan membiayai kuliahnya.”

Ada masa ketika lelah menembus sumsum tulang dan rasa rindu pada kampung halaman membuat Andi berada di ambang keputusan untuk menyerah.

Ia sempat memohon mutasi kembali ke Bangkalan. Beruntung, peran seorang pendidik sejati hadir melalui Bu Marhamah (Ketua Program Studi) yang menahannya dengan kalimat penuntun: “Kamu memulainya di sini, harus berakhir di sini juga.

Kalimat singkat inilah yang menjaga nyala lilin harapannya tetap hidup di saat badai keputusasaan menerpa.

Transkrip Ketulusan yang Tak Terjangkau Angka

Sistem pendidikan formal kita memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), skala nilai A hingga E, serta kriteria kelulusan teknis yang tertata rapi dalam sistem administrasi kampus.

Namun, kisah Andi membuktikan bahwa kualitas manusia tidak bisa direduksi hanya ke dalam angka-angka statistik tersebut.

  • Pendidikan adalah Proses Memanusiakan Manusia: Nilai tertinggi sebuah kelulusan terletak pada pembentukan karakter, daya tahan mental, dan kesadaran etik untuk berbakti kepada orang tua dan masyarakat.

  • Keagungan Doa Seorang Ibu: Di balik setiap lembar ijazah atau gelar akademik yang diraih seorang anak, terdapat barisan doa malam seorang ibu yang tak pernah putus dan tak pernah meminta imbalan.

  • Peran Empati Pendidik: Dosen pembimbing dan penguji idealnya tidak hanya menjadi algojo akademik, tetapi juga pengayom yang mampu melihat sisi kemanusiaan di balik berkas skripsi mahasiswa.

Baca Juga:  Penguatan Ekosistem Digital untuk Transformasi Bisnis UMKM: Belajar dari Kisah Madu Syaiful Pontianak

Seorang ibu di kampung halaman mungkin tidak pernah membaca bab demi bab analisis data dalam skripsi anaknya.

Beliau mungkin tidak mengerti istilah strategis atau teori pengembangan SDM.

Namun, ibu tahu persis berapa liter air mata yang tumpah saat melepas anaknya pergi merantau, dan berapa khusyuk doa yang dilangitkan setiap malam demi keselamatan serta keberhasilan sang buah hati.

Ketika Andi keluar dari ruang ujian dan diminta menghubungi ibunya untuk menyampaikan kabar kelulusan, sejatinya kemenangan itu bukan milik Andi seorang.

Hari itu, yang dinyatakan lulus dengan predikat terbaik adalah doa, ketulusan, dan pengorbanan seorang ibu.

Jika saja kampus memiliki transkrip khusus untuk mengukur cinta, air mata, ketangguhan, dan pengorbanan batin, maka nilai A pun tidak akan pernah cukup.

Sebab ada nilai-nilai luhur kehidupan yang berada jauh di atas skala akademis, ia hanya bisa dirasakan dengan hati, dihayati dengan rasa syukur, dan dikenang sambil menahan haru. (DW)

Catatan:

  • Tulisan ini ditulis kembali berdasarkan status miliknya Bang Rosadi Jumadi

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More