Daftar Isi
Kalau kita bicara tentang kisah cinta sejati, benak kita mungkin langsung melayang pada karya-karya sastra besar dunia.
Eropa bangga dengan roman Romeo & Juliet, sastra Arab mengabadikan balada kerinduan Layla & Majnun, sementara cerita rakyat Jawa memuliakan keteguhan Rama & Shinta.
Tun Dr Mahathir dan Tun Dr Siti Hasmah
Narasi-narasi klasik itu seolah memberi tahu kita bahwa cinta yang sejati selalu membutuhkan pengorbanan dan daya tahan yang luar biasa.
Namun, beberapa waktu lalu, publik diiringi kabar duka yang membawa keheningan mendalam.
Pada Senin, 28 September 2026, berita kepulangan Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali di usia 100 tahun memenuhi linimasa.
Beliau mengembuskan napas terakhirnya di Institut Jantung Negara (IJN), Kuala Lumpur.
Di balik rasa duka itu, terselip sebuah kenangan tentang keindahan perjalanan hidup yang luar biasa: lebih dari tujuh dekade, beliau berjalan bersama sang suami, Tun Dr Mahathir Mohamad.
Perjalanan cinta Tun Dr Mahathir dan Tun Dr Siti Hasmah bukan sekadar narasi manis di lembar fiksi, melainkan bukti nyata tentang kehangatan, kesetiaan, dan pengabdian yang melampaui zaman.
Berawal dari Ruang Kuliah di Singapura
Kisah dua sejoli Tun Dr Mahathir dan Tun Dr Siti Hasmah ini membawa kita kembali ke tahun 1947 di King Edward VII College of Medicine, Singapura.
Saat itu, Siti Hasmah muda adalah satu-satunya mahasiswa wanita beretnis Melayu di angkatannya yang menempuh pendidikan kedokteran, sebuah pencapaian yang terbilang langka dan sangat tangguh di zamannya.
Di ruang-ruang kelas dan perpustakaan kampus itulah, benih-benih ketertarikan mulai tumbuh.
Dalam berbagai kenangan yang pernah dibagikan, Siti Hasmah sering menceritakan betapa Mahathir muda hadir sebagai sosok penolong yang sabar, terutama ketika beliau berjuang memahami mata kuliah fisika dan kimia.
Ketenangan dan ketajaman berpikir Mahathir memikat hatinya, sementara kelembutan dan keteguhan hati Siti Hasmah meluluhkan Mahathir.
Setelah sama-sama menyelesaikan studi dan menyandang gelar doktor, Tun Dr Mahathir dan Tun Dr Siti Hasmah meresmikan ikatan suci pernikahan pada 5 Agustus 1956.
Siapa yang menyangka, dari Janji Suci di pertengahan abad ke-20 itu, lahirlah sebuah perjalanan rumah tangga yang bertahan hingga 70 tahun.
Bukan Sekadar Pendamping, Melainkan Perintis
Sering kali kita melihat pasangan dari seorang tokoh dunia berada di balik bayang-bayang kebesaran suaminya.
Namun, Siti Hasmah mengukir jejaknya sendiri dengan penuh keanggunan.
Beliau adalah salah satu dokter perempuan Melayu pertama di Malaysia yang mencurahkan hidupnya untuk kesehatan masyarakat, khususnya bagi ibu dan anak di kawasan pedesaan.
Beliau bahkan dipercaya menjadi State Maternal and Child Health Officer di Kedah—sebuah bukti nyata dari kapasitas dan ketulusannya.
Ketika Mahathir menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia dalam masa kepemimpinan yang membentang panjang melintasi dua dekade lebih, Siti Hasmah menjalankan peran Ibu Negara dengan begitu hangat.
Beliau aktif mengampanyekan kesadaran kesehatan mental, pencegahan penyalahgunaan narkoba, serta pemberdayaan perempuan.
Di luar rutinitas pengabdian yang padat, beliau adalah sosok yang dekat dengan seni.
Petikan biolanya dan kehangatan tutur katanya selalu menjadi penyeimbang yang menenangkan di tengah kerasnya dinamika panggung politik yang dihadapi sang suami.
Menua Bersama dalam Ketulusan
Melihat foto-foto kebersamaan Tun Mahathir dan Tun Siti Hasmah di usia senja mereka selalu memunculkan rasa hangat di hati.
Jemari yang tetap saling menggenggam, tatapan mata yang penuh pengertian, dan senyum yang tak pudar oleh garis-garis usia menjadi pemandangan yang amat menyentuh.
Ketika ditanya mengenai rahasia keharmonisan perkawinan mereka, jawabannya sederhana namun mendalam: saling menghormati, menjaga komunikasi yang jujur, memberi ruang satu sama lain untuk bertumbuh, serta memegang teguh komitmen pengabdian.
Politik bisa berganti, kekuasaan bisa datang dan pergi, tetapi kebersamaan Tun Dr Mahathir dan Tun Dr Siti Hasmah tetap kokoh tak tergoyahkan.
Doa untuk Abadinya Kasih
Kini, maut telah memisahkan kebersamaan fisik mereka di dunia. Selamat jalan, Tun Dr Siti Hasmah. Warisan kebaikan, keteladanan, dan ketulusanmu akan terus mengenang di hati banyak orang.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di surga-Nya.
Dan untuk Tun Dr Mahathir serta keluarga yang ditinggalkan, semoga senantiasa diberikan kekuatan dan ketabahan.
Percayalah, cinta sejati yang dirawat Tun Dr Mahathir dan Tun Dr Siti Hasmah dengan tulus hingga maut memisahkan kelak akan dipertemukan kembali dalam keabadian yang sesungguhnya.
Sumber Referensi:
- https://malaysiamadani.gov.my/2026/09/tun-dr-siti-hasmah-meninggal-dunia/
- https://hellodoktor.com/kesihatan/berita/tun-dr-siti-hasmah-meninggal-dunia/
- https://health.kompas.com/read/26I28180100968/siti-hasmah-meninggal-di-usia-100-tahun-ini-pengabdiannya-di-dunia-kesehatan
- https://investortrust.id/international/117654/selamat-jalan-ibu-siti-hasmah-cinta-sejati-mahathir-selama-70-tahun






