Leluasa Mengetik, Lupa Beretika: Elda Putri Rahardini Lupa Bahwa Adab Harus Lebih Tinggi dari Ilmu
Merasa memiliki pendidikan tinggi dan berasal dari keluarga yang hidup normal terkadang dapat membuat seseorang lupa akan adab yang harus dijunjung tinggi.
Sebuah kondisi dinamika media sosial belakangan ini kembali menghangat gara-gara satu baris komentar di platform Threads miliknya Yurizal Tri Chaerawan.
Tidak Hanya Sekedar Sindiran
Kalimat “PP nya kayak orang Have tapi aslinya Haven’t kah? haven’t some brain cells” yang dituliskan Elda Putri Rahardini di kolom komentar milik Yurizal mendadak viral dan memancing gelombang reaksi dari warganet.
Bagi sebagian orang, tulisan tersebut mungkin dianggap sekadar sindiran sarkastik atau luapan emosi sesaat. Blogger Borneo sendiri berpendapat demikian.
Akan tetapi, jika dibedah lebih dalam, fenomena ini memperlihatkan masih luasnya jurang Literasi Digital di kalangan pengguna internet kita.
Literasi Digital sejatinya bukan sekadar mahir mengoperasikan aplikasi, membuat konten viral, atau lihai berselancar di dunia maya.
Secara resmi, Kementerian Komunikasi dan Digital mengelompokkan literasi digital ke dalam empat pilar utama: Cakap Digital (Digital Skills), Keamanan Digital (Digital Safety), Budaya Digital (Digital Culture), dan Etika Digital (Digital Ethics).
Kasus yang menyeret komentar Elda ini menjadi cermin jernih yang menyoroti betapa krusialnya pilar keempat, yaitu Etika Digital.
Menguliti Komentar Pedas dari Kacamata Etika Digital
Etika Digital (Digital Ethics) adalah kemampuan menyadari, mengadaptasi, serta menerapkan tata krama dan etika berinternet (netiquette) saat berinteraksi di ruang publik siber.
Ketika seseorang melontarkan komentar yang membandingkan penampilan luar (“orang Have”) sekaligus menyerang tingkat kecerdasan (“haven’t some brain cells”), ada beberapa prinsip etika digital yang terang-terangan terabaikan:
1. Jebakan Serangan Ad Hominem dan Classism
Dalam Etika Digital, perbedaan pendapat atau ketidaksetujuan seharusnya diuji pada argumennya, bukan pada sosok orangnya.
Menyerang tampilan fisik, latar belakang sosial-ekonomi, atau martabat pribadi seseorang adalah bentuk serangan ad hominem.
Ketika diskusi bergeser ke ranah pelecehan personal, interaksi tersebut otomatis kehilangan nilai edukatifnya dan berubah menjadi perundungan siber (cyberbullying).
2. Amnesia Digital Footprint (Jejak Digital)
Banyak pengguna media sosial lupa bahwa layar HP bukanlah tembok tebal yang menyembunyikan mereka dari konsekuensi dunia nyata.
Setiap ketikan jempol meninggalkan jejak digital yang abadi.
Di platform serba cepat seperti Threads, sebuah komentar bisa di-screenshot, disebarkan, dan diarsip oleh ribuan orang hanya dalam hitungan detik.
Emosi sesaat yang diumbar tanpa etika bisa berujung pada kerusakan reputasi jangka panjang.
3. Hilangnya Keterampilan “Saring Sebelum Sharing”
Pilar etika digital menuntut kita untuk memiliki kontrol emosi dan berpikir kritis sebelum menekan tombol post.
Pertanyaan sederhana seperti “Apakah kalimat ini pantas?”, “Apakah ini menyakiti orang lain?”, atau “Apakah saya berani mengucapkan ini secara langsung di depan orangnya?” seharusnya menjadi filter wajib bagi setiap netizen.
Pelajaran Penting untuk Kita Semua
Menguasai teknologi tanpa diimbangi Etika Digital yang matang ibarat mengendarai kendaraan bermotor berkecepatan tinggi tanpa tahu aturan lalu lintas—sangat rentan memicu kecelakaan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Beda pendapat, kritik tajam, atau sekadar berdiskusi di media sosial adalah hal yang sah-sah saja.
Namun, menyampaikan argumen dengan bahasa yang santun dan menghargai sesama pengguna tidak akan pernah menurunkan kelas kita.
Justru dari situlah kualitas dan kedewasaan literasi digital seseorang diuji.
Sebelum jempol kembali menari di kolom komentar berikutnya, ada baiknya kita ingat satu hal: di balik setiap akun media sosial yang kita komentari, ada manusia nyata yang layak diperlakukan dengan etika dan rasa hormat. (PB)



