Konsep Akuntansi dalam Islam dan Perkembangannya dari Zaman ke Zaman

Setiap perusahaan baik yang bergerak di bidang jasa, dagang, dan lain sebagainya, pasti tidak luput dari permasalahan akuntansi. Dalam catatan sejarah, telah ditemukan arsip pencatatan tertua yang ada di Babilonia pada 3600 tahun SM. Namun pencatatan tersebut hanyalah catatan pembayaran upah atau gaji. 

Menurut American Accounting Association, akuntansi merupakan proses mengidentifikasi, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi untuk memungkinkan adanya penilaian dan pengambilan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut. Jika diteorikan, akuntasi merupakan suatu seni pencatatan dalam transaksi perusahaan. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa akuntansi merupakan pencatatan.

Akuntansi dimulai oleh seorang cendikiawan asal Jenoa, Italia pada tahun 1494 yang bernama Luca Pacioli yang telah menulis buku yang berjudul Summa de arithmetica, geometria, proportioni et proportionalita. Buku tersebut menjabarkan tentang bagaimana sistem pencatatan serupa yang baru dikenal pada saat itu.

Konsep Akuntansi dalam Islam

Namun dalam agama Islam kata akuntansi sudah menjadi kata yang sudah tidak asing lagi. Bahkan bukan menjadi suatu ilmu yang baru karena dalam peradaban Islam sudah dikenal Baitul Mal yaitu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai bendahara negara. Baitul Maal itulah yang menjamin kesejahteraan sosial masyarakat.

Baitul Maal sudah dikenal sejak tahun ke-2 H tepatnya pada masa pemerintahan Islam di Madinah. Berdirinya lembaga ini diawali dengan cekcok para sahabat Rasulullah SAW dalam pembagian harta rampasan perang badar. Maka turunlah firman Allah SWT yang artinya:

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil. Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Anfal : 41)

Awal Mula Berdirinya Baitul Mal

Setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah SAW mendirikan Baitul Maal yang mengatur setiap harta benda kaum muslimin, baik itu harta yang keluar ataupun harta yang masuk. Bahkan Nabi SAW sendiri menyerahkan segala urusan keuangan negara kepada lembaga keuangan ini. Lalu bagaimana konsep akuntansi dalam Islam itu sendiri?

Konsep akuntansi yang harus diikuti oleh setiap pelaku bisnis sebenarnya telah digariskan dalam kitab suci Al-Quran. Konsep tersebut dinyatakan dalam firman Allah SWT yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bermualamah tidak secara tunai (melakukan hutang piutang) untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaknya seorang penulis diantara kamu menulis dengan benar. Dan janganlah penulis dengan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, hendaknya ia menulis. Dan hendaknya orang berhutang itu mengimlakkan (mendiktekan) apa yang ditulis itu, dan hendaknya dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun dari pada hutangnya.” (QS. Al-Baqarah: 282).

Kaidah Akuntansi dalam Konsep Syariah Islam

Kaidah akuntansi dalam konsep syariah Islam dapat didefinisikan sebagai kumpulan dasar-dasar hukum yang baku dan permanen yang disimpulkan dari sumber-sumber syariah Islam dan dipergunakan sebagai aturan oleh seorang akuntan dalam pekerjaannya baik dalam pembukuan, analisis, pengukuran, pemaparan maupun penjelasan dan menjadi pijakan dalam menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa.

Dasar hukum dalam akuntansi syariah bersumber dari Al-Quran, sunnah nabawiah, ijma’ (kesepakatan dari para ulama), qiyas (persamaan suatu peristiwa tertentu) dan urf” (adat kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syariah Islam). Penjabaran mengenai akuntansi syariah ini menambah satu lagi pembuktian tentang kebenaran agama Islam bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh bukan hanya persoalan agama bahkan dalam segi ekonomi pun telah diatur dalam Islam bahkan tertulis jelas dalam Al-Quran sejak 14 abad yang lalu.

Sejarah Akuntansi dalam Islam

Ilmu akuntansi yang ada di dalam ajaran Islam bagi kebanyakan orang saat ini masih sering dipertanyakan keberadaan serta perannya. Banyak yang beranggapan bahwa akuntansi Islam atau akuntansi yang berdasarkan syariah Islam sama saja dengan ilmu akuntansi secara konvensional seperti yang umum kita ketahui kecuali mengenai adanya bunga.

Anggapan-anggapan tersebut sebenarnya merupakan hal yang wajar namun tidak sepenuhnya anggapan tersebut benar adanya. Di dalam sumber ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan Hadist kita akan menemukan ayat-ayat maupun hadist-hadist yang membuktikan bahwa Islam juga membahas ilmu akuntansi jika kita mengkajinya lebih jauh dan lebih mendalam.

Di dalam ajaran Islam terdapat sebuah ayat yang berisi tentang sebuah sistem untuk menciptakan kebenaran, kepastian, keterbukaan, dan keadilan antara kedua belah pihak yang memiliki hubungan muamalah yaitu dengan melakukan sistem pencatatan. Sistem pencatatan tersebut kita kenal sebagai sistem akuntansi.

Berbeda dengan akuntasi pada umumnya, sistem akuntansi yang terdapat di dalam Al-Quran berlandaskan syariah atau ketentuan-ketentuan yang sesuai dengan ajaran Islam, sehinggga sistem pencatatan tersebut kita sebut dengan akuntansi Islam atau akuntansi syariah.

Tujuan akuntansi syariah adalah agar terciptanya peradaban bisnis dengan wawasan humanis, emansipatoris, transendental, dan teologis. Selain itu, dengan hadirnya akuntansi syariah, realitas sosial yang dibangun akan mengandung nilai tauhid dan ketundukan kepada ketentuan Allah SWT. Hal tersebut menunjukkan agama Islam tidak hanya membahas mengenai perintah untuk beribadah saja, namun juga untuk menjawab berbagai persoalan manusia dalam segala aspek kehidupan.

Perkembangan Awal Akuntansi Syariah

Pemikir akuntansi pada awal perkembangannya adalah seorang ahli matematika, yaitu Musa Al-Khawarizmy, karena pada awal perkembangannya akuntansi merupakan bagian dari ilmu pasti, yaitu ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan perhitungan yang memiliki kebenaran absolut dan bersfifat matematis serta berhubungan dengan masalah hukum alam.

Ilmu pengetahuan yang bersifat kumulatif akan terus berkembang seiiring perkembangan zaman, begitupun dengan ilmu akuntansi. Penemuan metode baru dalam akuntansi terus mengalami perubahan sebagai upaya penyesuaian dengan kondisi saat itu.

Di dalam proses perkembangannya, akuntansi kemudian lebih cenderung menjadi bagian dari ilmu yang mempelajari fenomena keadaan masyarakat dengan lingkungan yang bersifat relatif atau kita biasa kita sebut dengan ilmu sosial. Faktor-faktor perubahan dalam masyarakat menjadi penyebab berubahnya ilmu akuntansi dari bagian ilmu pasti menjadi bagian dari ilmu sosial.

Paccioli kita kenal sebagai bapak akuntansi dan berkembangnya ilmu akuntansi dimulai sejak peradaban barat. Padahal proses pencatatan atau akuntansi sudah ada jauh sebelum Paccioli mengklaim hal tersebut. Seperti perintah Allah SWT. Dalam surah Al-Baqarah:28 untuk melaksanakan pencatatan dalam melakukan transaksi tentang suatu hak dan juga kewajiban. Hal tersebut membuktikan bahwa ilmu akuntansi sudah lahir dan berkembang sebelum masa Paccioli.

Akuntansi modern telah lebih awal dikembangkan oleh Musa Al-Khawarizmy dengan menggunakan konsep-konsep dasarnya untuk memcahkan persoalan pembagian harta warisan dan praktik bsinis perdagangan secara adil dan sesuai dengan syariah atau ketentuan dalam Al-Quran.

Sistem akuntansi pertama ditemukan oleh Islam dengan dasar kesamaan akuntansi seperti yang dipernah diperkenalkan oleh Paccioli. Hal tersebut juga didukung dengan majunya peradaban bangsa Arab pada masanya dengan administrasi yang menggunakan praktik pembukuan serta transformasi ilmu pengetahuan dengan ditemukannya aljabar, logaritma, ilmu ekonomi, serta ilmu kedokteran.

Perkembangan Akuntansi pada Zaman Rasulullah

Pencatatan dimulai pada masa Rasulullah yaitu saat diturunkannya surah Al-Baqarah:282 tentang perintah pencatatan transaksi non tunai. Rasulullah kemudian membentuk hafazhatul amwal (pengawas keuangan) untuk membersihkan muamalah maaliah (keuangan) dengan menekankan pada pencatatan keuangan.

Pada masa Rasulullah, pencatatan dilakukan untuk mengetahui utang-piutang serta perputaran uang, seperti pengeluaran dan pemasukan. Selain itu pencatatan digunakan untuk menghitung harta keseluruhan yang kemudian akan dihitung kadar zakat yang harus dikeluarkan.

Praktik akuntansi kemudian dilakukan pada saat Rasulullah mendirikan Baitu Maal pada abad ke 7 Rasulullah SAW yang berfungsi untuk menghimpun dan mengelola seluruh penerimaan negara, seperti pembayaran wajib zakat, ushr (pajak pertanian dari muslim) dan jizyah (pajak perlindungan dari non muslim yang tinggal di daerah yang ditinggali muslim), serta juga adanya kharaj (pajak pertanian dari non muslim). Dengan adanya baitul maal mendorong pemerintah membuat laporan keuangan dan melakukan pencatatan pada setiap transasksi, seperti pengeluaran yang dibutuhkan untuk kepentingan negara.

Rasulullah telah menunjuk petugas qadi, sekretaris, dan pencatat administrasi pemerintahan walaupun pengelolaan baitul maal saat itu masih sederhana. Rasulullah melakukan pembagian dan pemisahan tugas bagi setiap petugas baitul maal yang dilakukan untuk mejamin terciptanya akuntabilitas.

Perkembangan Akuntansi pada Zaman Khalifah
1. Abu Bakar Assidiq

Pengelolaan Baitul Maal setelah masa Rasulullah dilanjutkan oleh Abu Bakar As shidiq. Beliau meneruskan sistem pendistribusian harta untuk rakyat seperti yang telah diterapkan oleh Rasulullah. Pada masa kekahlifahan Abu Bakar as shidiq, perhatiannya cukup besar terhadap keakuratan perhitungan zakat, selain itu prinsip kesamarataan dalam pendistribusian harta baitul maal membuat harta yang ada di baitul maal tidak pernah menumpuk dalam jangka waktu yang lama karena langsung didistribusikan kepada kaum muslimin.

2. Umar bin Khattab

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab terjadi perubahan sistem administrasi yang cukup signifikan dengan didirikannya “Diwan” yaitu 14 departemendan 17 kelompok yang berfungsi untuk mengelola pemerintahan serta mengurus pembayaran gaji dan pajak tanah.

Selain itu khalifah umar bin khattab juga membagi anggaran pendapatan negara menjadi 4 bagian, yaitu khusus pengeluaran harta zakat, khusus pengeluaran dari 1/5 harta rampasan, khusus untuk pengeluaran harta yang diserahkan kepada baitul maal, dan khusus untuk pembiayaan kemaslahatan umat. Pada masa ini sistem pembukuan dikenal dengan istilah jarridah.

3. Ustman bin Affan

Istilah khittabat al-Rasull wa sir yang memiliki arti memelihara pencatatan rahasia mulai dikenal pada masa khalifah Ustman bin Affan. Pada masa ini juga mulai dibentuknya shahib al shurta dan muhtasib yang memiliki tugas utama dalam mencegah pelanggaran dalam hukum sipil dan hukum agama karena pada masa ini terjadi kesulitan dan terjadinya peyimpangan dari kebijakan pada masa kekahlifahan Umar bin Khattab.

Pengawasan pada pelaksanaan agama dan moral pada pemerintahan ini lebih berfokus kepada muhtasib yaitu orang-orang yang bertanggung jawab atas lembaga al hisbah untuk mengawasi hal-hal yang termasuk dalam ketidakadilan di dunia ini untuk semua mahluk. Pada masa ini, khalifah Ustman bin Affan juga mendelegasikan kewenangan kepada para pemilik untuk menaksir kepemilikam sendiri dalam zakat.

4. Ali Bin Abi Thalib

Khalifah Ali pada masanya memilki konsep tentang pemerintahan dan administrasi umum yang jelas. Hal tersebut ditandai dengan proses pencatatan dan pelaporan yang baik sehingga terjadinya surplus pada Baitul Maal. Hasil tersebut kemudian dibagikan secara merata dan proporsional sesuai dengan tuntutan Rasullullah. Pada masa ini sistem administrasi Baitul Maal difokuskan pada pusat dan lokal. Sistem administrasi yang sudah baik juga ditandai dengan adanya job description yang jelas kepada semua elemen pemerintahannya yang terkait dibidangnya.

Pada masa ini khalifah Ali bin Abi Thalib mengajukan permintaan untuk membentuk pengadaan bendahara kepada para pejabat pemerintahannya, dimana seperti yang kita ketahui tugas kebendaharaan identik dengan ilmu akuntansi.

Perkembangan Akuntansi pada Zaman Daulah Islamiyah
1. Masa Bani Umayyah

Tahun 661 M sampai 750 M merupakan masa kekuasaan kekhalifahan umayyah. Pada masa ini telah terdapat proses pencatatan seperti lembaga akuntan yang memberikan input data-data akuntansi yang digunakan dalam pengambilan keputusan oleh pihak kerajaan. Hal tersebut ditandai dengan terjadinya pergeseran dari negara yang demokratis menjadi negara yang monarki.

Pada masa kepemimpinan Abdul Malik, Bani Umayyah memiliki beberapa prestasi di berbagai bidang, seperti dibidang ekonomi, ekspansi kekuasaan islam, dan juga di bidang pembangunan. Keberhasilan khalifah Abdul Malik kemudian diikuti oleh putranya Walid Bin Abdul Malik (705-715) dengan membangun jala-jalan raya yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, serta gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid megah. Selain itu pembangunan panti-panti untuk kaum disabilitas pun mulai dilakukan, dimana semua orang yang telibat dalam kegiatan ini mendapatkan upah/gaji dari negara secara tetap.

Pencatatan yang teratur dan jelas tentu sangat dibutuhkan mengingat adanya perkembangan pembangunan di berbagai bidang tersebut. Meskipun literatur  yang memberikan informasi tentang terdapatnya lembaga pencatatan dan akuntan yang terlibat dalam proses pembangunan pada masa tersebut belum ada. Namun, pencatatan tentu diperlukan untuk memperlancar proses pembangunan tersebut, sehingga dapat disimpulkan pencatatan tersebut dilakukan oleh lembaga tertentu yang ditunjuk oleh pihak kerajaan pada masa itu.

2. Masa Bani Abbasiyah

Para pendiri dan penguasa pada masa ini disebut masa Bani Abbasyiah karena kekhalifahan pada masa ini merupakan keturunan Al Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. Bani abbasiyah didirikan oleh Abdullah A Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas.

Pada masa pemerintahan Al-mahdi (775-785 M) ditemukan beberapa catatan ekonomi dalam buku sejarah. Perekonomian pada masa pemerintahannya juga mengalami perkembangan dengan dibangunnya sistem irigasi, meningkatnya hasil-hasil pertambangan serta meningkatnya volume perdagangan. Pencatatan pada masa tersebut tentu dibutuhkan dan digunakan, namun belum ditemukan pencatatan rinci mengenai pencatatan telah digunakan pasa masa tersebut.

Kelebihan yang dimiliki Bani Abbasiyah yang dimulai dari tahun 132-232 H atau 750-847 M lebih banyak mengembangkan akuntasi secara umum dan buku-buku akuntansi secara khusus dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Contoh buku khusus yang dikenal  pada masa itu diantara adalah:

  • Daftarun Nafaqat (buku pengeluaran) yang disimpan di diwan nafaqat, Diwan ini bertanggung  jawab mengenai pengeluaran negara yang merupakan cermin dari pengeluaran khalifah.
  • Daftaraun Nafaqat wal Iradat (buku pengeluaran dan pemasukan) yang disimpan di diwan al mal. Diwan ini bertanggung jawab mengenai pembukuan seluruh harta yang masuk dan keluar di lembaga keuangan baitul maal.
  • Daftar Amwalil Mushadarah (buku sitaan) yang digunakan oleh diwan mushadarin, Diwan ini bertanggung khusus mengatur harta sitaan

Pembagian piutang pada masa itu pun mulai dikenal di kalangan kaum muslimin yang berada di negara islam. Pembagian tersebut dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

  • Ar-Ra’ij minal Mal (piutang yang mungkin bisa didapat), sekarang dikenal dengan ad-duyyunul jayyidah.
  • Al-Munkasir minal Mal (piutang yang mustahil untuk didapat), sekatang dikenal dengan ad-duyyunul ma’dumah.
  • Al-Muta’adzir wal Mutahayyir wal Muta’akid minal Mal (piutang yang di ragukan untuk didapatkan).
3. Masa Bani Ustmaniyyah

Kekhalifahan Ustmani berlangsung dari tahun 1258-1924 M. Pada tahun 656 H atau 1267 M, Ustman anak Urtughril lahir yang kemudian menjadi nisbat (ikon) kekuasaan dari khilafah Utsmaniyah. Pelaksanaan pembukuan yang khusus bagi setiap sistem akuntansi populer pada saat itu. Konsep penyetaraan menjadi penekanan pada pembukuan untuk menangani kelebihan dan kekurangan. Sistem-sistem akuntansi yang populer pada saat itu menurut Al Mazindarani, yaitu Akuntansi Bangunan, Akuntansi Pertanian, Akuntansi Pergudangan, Akuntansi Pembuatan Uang dan Akuntansi Pemeliharaan Binatang.

Sumber:

  • http://rinafebriaana.blogspot.com/2016/04/konsep-akuntansi-dalam-islam.html
  • http://rinafebriaana.blogspot.com/2016/10/sejarah-perkembangan-akuntansi-islam.html