BloggerBorneo.Com
Blog ini membahas mengenai bisnis online, digital marketing, personal branding, dan akuntansi keuangan. Info kerjasama: 0811561982 (WA)

Masjid Digital, Konsep Pengembangan Sistem Manajemen Informasi Masjid Berbasis TIK

Masjid memiliki posisi dan fungsi paling strategis dalam Islam. Selain sebagai rumah ibadah, Masjid juga merupakan lembaga pendidikan dan pengembangan ekonomi umat Islam. Akan tetapi, dalam konteks Aceh sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam, justru posisi dan fungsi Masjid belum dimanfaatkan secara maksimal.

Konsep Pengembangan Masjid Digital

Tidak dipungkiri pemerintah, baik secara langsung maupun melaui organisasi-organisasi Masjid seperti Dewan Masjid Indonesia (DMI), Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Dewan Kemakmuran Masjid Aceh (DKMA) dan Forum Silaturrahmi Masjid Serantau (FORSIMAS), sudah berupaya untuk memaksimalkan fungsi dan memperluas jaringan Masjid.

Namun upaya-upaya tersebut belum dapat terdistribusi secara luas. Salah satu faktornya adalah masih lemahnya sistem informasi Masjid. Perkembangan teknologi informasi sekarang ini sebenarnya dapat dapat dimanfaatkan untuk mengatasi permasalahan ini.

Di sisi lain, penerapan IT pada lembaga-lembaga keagamaan, seperti pesantren/dayah, surau, meunasah, ataupun Masjid masihlah sangat terbatas.

Berdasarkan pada persoalan ini, penelitian ini mencoba mengajukan suatu konsep pemberdayaan Masjid melalui pengembangan sistem manajemen informasi berbasis kebutuhan masjid.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi kontribusi kepada pemerintah dalam upaya memperluas peran dan jaringan Masjid agar dapat terfungsikan secara maksimal, terutama untuk melayani kebutuhan informasi religius bagi masyarakat.

Baca Juga:   Akun Profil Ghozali Everyday, Menjadi Miliarder dalam Sehari karena Jualan Foto Selfi

Selain itu, memberdayakan remaja Masjid dalam upaya memperkaya khazanah keislaman, dan memperluas akses informasi Masjid secara global juga menjadi fokus perhatian dalam penelitian ini.

Tahapan pelaksanaan penelitian dapat dikelompokkan dalam 2 kegiatan, yaitu kegiatan perencanaan (planning activities) dan kegiatan implementasi (implementation activities).

Kegiatan perencanaan meliputi analisa dan kajian kebutuhan Masjid (Masjid Needs Assasement), kajian literatur dan Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan para stakeholder masjid.

Kegiatan kedua adalah kegiatan implementasi yang meliputi pembuatan prototype website/database masjid, pengujian prototype, evaluasi tingkat kemudahan pemakaian (usability studies), dan selanjutnya adalah peresmian Masjid Digital di salah satu Masjid di Aceh besar sebagai proyek percontohan (pilot project).

Latar Belakang

Dalam Islam, Masjid memiliki posisi dan fungsi paling strategis. Selain sebagai rumah ibadah, Masjid juga merupakan lembaga pendidikan dan pengembangan ekonomi umat Islam.

Namun dalam konteks Aceh yang telah memproklamirkan diri sebagai daerah penerapan syariat Islam, posisi dan fungsi Masjid yang sangat strategis itu belum dimanfaatkan secara maksimal.

Hal ini bisa dilihat dari eksistensi Masjid yang ada di Aceh, dimana Masjid baru sebatas difungsikan sebagai rumah ibadah, terutama pelaksanaan shalat wajib lima waktu.

Diakui banyak usaha pemerintah yang telah dilakukan untuk mewujudkan visi pendidikan sebagaimana tujuan di atas, baik itu melalui pendidikan formal maupun informal. Namun sepertinya upaya pemerintah masih jauh dari harapan.

Baca Juga:   Akhirnya Datang Juga…

Salah satu yang menjadi asumsi penelitian ini adalah penyebab kurang tercapainya tujuan sebagaimana diharapkan diatas adalah akibat keterlibatan mengantisipasi persoalan-persoalan kekinian yang dihadapi generasi muda Islam.

Memberi Dampak Besar

Salah satu dampak yang memiliki pengaruh besar terhadap moral dan gaya hidup generasi muda saat ini adalah perkembangan teknologi informasi atau sering disebut dengan IT (Information Technology).

Perkembangan IT telah memberi dampak yang signifikandalam berbagai aspek kehidupan manusia. Penerapan IT di lembaga pendidikan tentunyaharus disiasati dengan hati-hati melalui pendekatan yang logis dan positif.

Contoh implementasi IT yang positif misalnya sangat jelas terlihat pada badan atau instansi penyedia jasa layanan, seperti layanan perbankan, layanan kesehatan, layanan transportasi, lembaga pendidikan, dan juga perpustakaan-perpustakaan di negara maju.

Penerapan IT telah mampu mempercepat layanan serta ekspansi layanan edukasi bagi pelanggan mereka. Namun tidak demikian halnya penerapan IT pada lembaga-lembaga keagamaan, seperti pesantren/dayah, surau, meunasah maupun Masjid.

Padahal lembaga-lembaga tersebut pada prinsipnya juga merupakan unit penyedia jasa layanan yang memiliki peran sangat signifikan dalam melayani masyarakat, khususnya dalam bidang sosial keagamaan.

Secara lengkap tulisan mengenai Konsep Pengembangan Masjid Digital ini bisa dibaca melalui akun Academia.Edu miliknya Nazaruddin Musa. (GST)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More