Daftar Isi
Setelah sempat mendapat penolakan dari beberapa pihak di Kabupaten Sanggau, Alhamdulillah Ustadz Abdul Somad (UAS) menjadi tamu kehormatan di Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Blogger Borneo sendiri tidak hadir dalam agenda Tabligh Akbar UAS tersebut, namun Alhamdulillah tulisan Muhammad Furqan di laman media sosialnya cukup lengkap untuk dipublikasikan.
Tabligh Akbar Ustadz Abdul Somad di Singkawang
Lautan manusia memadati Stadion Kridasana, Singkawang, Kalimantan Barat, Jumat (2/10/2026). Demikian kalimat ini menjadi pengantar dari tulisan tersebut.
Ribuan jamaah dari berbagai penjuru hadir untuk mengikuti Tabligh Akbar bersama Tuan Guru Ustadz Prof. H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D., dalam rangka Milad Fahmi Ummi ke-7.
Sejak sebelum acara dimulai, antusiasme jamaah telah terasa. Stadion Kridasana dipenuhi masyarakat yang datang untuk mendengarkan langsung tausiyah UAS.
Kehadiran ribuan jamaah menjadi gambaran kuatnya kerinduan masyarakat terhadap majelis ilmu dan nasihat para ulama.
Kedatangan UAS di Singkawang juga mendapat sambutan hangat. Nuansa budaya lokal turut mewarnai penyambutan melalui pertunjukan silat, sebelum UAS menyampaikan tausiyah di hadapan ribuan jamaah.
Lima Pesan Nabi yang Menghidupkan Persaudaraan
Dalam tausiyahnya, UAS menyampaikan sejumlah pesan Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad.
Pesan tersebut sederhana, namun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana seorang muslim membangun hubungan dengan Allah sekaligus menjaga hubungan dengan sesama manusia.
Pertama, “Afsus Salam” – Tebarkan Salam
UAS mengajak jamaah untuk membiasakan diri mengucapkan salam. Salam bukan hanya sapaan, tetapi doa keselamatan dan bentuk kasih sayang kepada sesama muslim.
Di tengah masyarakat yang beragam, semangat menebarkan salam juga menjadi bagian dari upaya membangun persaudaraan dan kedamaian.
UAS kemudian mengingatkan bahwa lawan dari keadilan adalah kezaliman. Karena itu, kehidupan harus dibangun dengan keadilan, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
Kedua, “Ath’imuth Tha’am” – Berikan Makanan
Pesan berikutnya adalah memberi makan.
UAS mengingatkan jamaah bahwa kebaikan yang diberikan kepada orang lain tidak akan sia-sia.
“Semua pasti akan dibalas dengan kebaikan-kebaikan, insyaallah.”
Semangat inilah yang kemudian dihubungkan dengan gerakan berbagi dan kepedulian terhadap sesama.
UAS mengajak jamaah untuk ikut mengambil bagian dalam Gerakan Infak Beras, yang menjadi ikhtiar membantu memenuhi kebutuhan pangan para santri penghafal Al-Qur’an di berbagai daerah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Gerakan yang diinisiasi Ustadz Luqmanul Hakim (Ayah Man) dari Pontianak tersebut mengajak masyarakat berbagi mulai dari Rp1.000 per hari atau sekitar Rp25.000 per bulan.
Selain itu, UAS juga menyinggung semangat memakmurkan masjid melalui program makan bersama, sebagaimana yang dilakukan di Masjid Kapal Munzalan Indonesia dan Masjid Ismuhu Yahya.
Masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga tempat berkumpul, berbagi dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Ketiga, “Wasilul Arham” – Sambung Silaturahmi
UAS kemudian mengingatkan pentingnya menjaga hubungan kekerabatan dan silaturahmi.
Menurutnya, jangan sampai silaturahmi hanya menjadi materi ceramah, sementara dalam kehidupan nyata justru tidak dilakukan.
Di era media sosial, manusia dapat berkomunikasi dengan mudah. Namun, komunikasi melalui layar tidak selalu menggantikan pertemuan secara langsung.
Karena itu, UAS mengajak jamaah kembali menjadikan masjid sebagai tempat bertemu dan menyambung persaudaraan.
Bertemu saat Subuh, Zuhur, Asar, Magrib maupun Isya menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan mempererat hubungan.
Masjid menjadi tempat bertemunya hati-hati yang ingin dekat kepada Allah sekaligus dekat dengan sesama.
UAS juga mengingatkan bahwa dalam belajar agama, setidaknya ada tiga hal yang tidak boleh ditinggalkan:
- Aqidah
- Fiqih
- Akhlak
Ilmu agama tidak hanya membuat seseorang mengetahui apa yang harus dipercayai dan bagaimana beribadah, tetapi juga bagaimana menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan.
Keempat, Hidupkan Malam dengan Tahajud
Pesan berikutnya adalah menghidupkan malam.
UAS mengajak jamaah untuk membiasakan bangun sebelum Subuh. Jika mampu, jamaah dapat mempersiapkan diri dengan mandi, kemudian melaksanakan salat sunnah wudhu, salat taubat, salat tahajud dan salat hajat.
Di hadapan ribuan jamaah, UAS juga menyampaikan harapan agar dirinya senantiasa diberikan keistiqamahan untuk bangun satu jam sebelum Subuh.
Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan besar dalam kehidupan sering kali dimulai dari kesungguhan seseorang memperbaiki hubungan dengan Allah, terutama ketika tidak ada manusia lain yang melihat.
Dari Stadion Kridasana, Menghidupkan Kembali Semangat Berjamaah
Tabligh Akbar Milad Fahmi Ummi ke-7 kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kiyai Luqmanul Hakim (Ayah Man).
Ribuan jamaah yang memadati Stadion Kridasana menjadi saksi sebuah malam penuh nasihat, doa dan semangat persaudaraan.
Dari Singkawang, pesan itu bergema:
Tebarkan salam.
Berikan makanan.
Sambung silaturahmi.
Hidupkan malam dengan ibadah.
Dan jangan pernah berhenti belajar agama.
Sebab dakwah bukan hanya tentang apa yang kita dengarkan, tetapi tentang kebaikan apa yang kemudian kita bawa pulang dan kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup
Masya Allah. Ternyata Allah memberi jalan kepada Ustadz Abdul Somad (UAS) untuk dapat memberikan manfaat dan ilmu kepada saudara kita di Kota Singkawang, Kalimantan Barat.
Terlepas dari polemik yang sempat terjadi di Kabupaten Sanggau sehingga UAS tidak diperkenankan hadir disana, Blogger Borneo melihat hal itu sebagai satu dinamika saja.
Toh Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie yang notabene Non Muslim juga merasa tidak masalah dengan kehadiran UAS disana. (DW)









