Menjadi Sukses adalah Impian, Menjadi Blogger adalah Pilihan.

Mendulang Sukses di Bisnis Keripik Pare

Jika mendengar kata keripik, tentu saja kita akan teringat dengan beberapa jenis bahan makan makanan yang selama ini sudah lumrah dijadikan sebagai bahan pembuatan keripik seperti pisang dan dan ubu. Namun ternyata selain kedua jenis makanan tersebut, sayur juga bisa diolah menjadi keripik yang sangat lezat. Misalnya saja keripik bayam, terong bahkan ada yang berhasil meraup untung dari menjual keripik pare.

Tidak semua orang suka memakan tanaman berbentuk buah-buahan bernama pare, itu dikarenakan rasanya yang pahit meski sudah diolah menjadi sayur dengan tambahan berbagai macam bumbu. Selain pare, terong ternyata juga tidak begitu digemari. Lalu bagaimana jika kedua jenis sayuran tersebut diolah menjadi keripik?

Esti Widayati, seorang pengusaha keripik asal Kampung Sanden, Kelurahan Kramat Selatan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang mencoba berinovasi dengan membuat pare menjadi kudapan nikmat yang disukai oleh banyak orang. Awalnya, wanita 47 tahun ini hanya seorang ibu rumah tangga yang juga merintis usaha catering dan souvenir sekitar tahun 2009 silam.

Produk Keripik Pare Kota Solo
Sumber: www.terasolo.com

Namun wanita yang akrab disapa Etik tersebut kerap mengeluhkan dua putrinya yang tidak suka makan sayur, termasuklah pare dan terong. Etik pun berfikir bagaimana cara untuk memodifikasi aneka sayuran tersebut agar menjadi makanan yang digemari oleh anak-anak.

“Dahulu saya selalu kesal dengan anak-anak yang susah sekali makan sayur, lalu saya mencari cara bagaimana agar anak-anak saya suka makan sayur, saya terus bereksperiman hingga akhirnya nemu ide membuat keripik,” ucap Etik kepada wartawan. Etik menuturkan bahwa keripik buatannya tidak serta merta disukai oleh anak-anaknya, karena keripik pare masih pahit dan keripik terong yang masih lembek dan tidak tahan lama. Setelah melalui berbagai uji coba, alumni SMA Kristen 1 Kota Magelang itu pun berhasil mengubah pare dan terong menjadi keripik yang gurih, renyah dan tentu saja tidak pahit.

“Benar saja, anak-anak saya sangat menyukainya. Lalu saya mencoba untuk jenis sayuran lain, seperti daun singkong, seledri, kemangi, bayam. Untuk keripik daun singkong, saya bikin seperti peyek paru sapi. Kalau orang menyebutnya keripik paru KW,” ungkapnya.

Etik sendiri tidak menyangka, selain anak-anaknya, sejumlah kerabat, teman dan tetangga juga menyukai keripik sayur buatannya. Etik pun lalu mencoba mengembangkannya menjadi sebuah usaha rumahan hingga saat ini. Sementara usaha catering dan souvenirnya ia tinggalkan karena menurut Etik usaha tersebut memakan banyak waktu dan tenaga.

“Proses pembuatan keripik sayuran ini membutuhkan sekitar 1,5 jam, mulai dari merajang, lalu menghilangkan kadar airnya, membuat adonan tepung, selanjutnya digoreng hingga dua kali proses. Kami juga tidak menggunakan tambahan zat kimia apapun, jadi aman dan sehat,” urai Etik.

Kini Etik memiliki delapan pekerja yang membantunya memproduksi puluhan kilogram keripik sayuran di rumahnya yang terletak di Jalan Jeruk 1 nomor 3, Kramat Selatan, Magelang Utara, Kota Magelang. Dalam sehari, ia mampu memproduksi rata-rata 30 kilogram untuk satu jenis keripik sayur.

Usaha keripik sayuran yang ia namai “Jaya Makmur” itu sudah memiliki pelanggan hingga ke luar kota, seperti Temanggung, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Lampung hingga Pacitan Jawa Timur.

“Sebagian besar pelanggan saya para sales, produk saya mereka jual kembali. Pesanan akan melonjak kalau menjelang Hari Raya seperti, Idul Fitri dan Natal,” ungkap Etik.

Harga keripik aneka sayuran ini juga tidak begitu mahal. Untuk satu kantong plastik ukuran 2,5 kilogram, dijual dengan harga Rp. 80.000 sampai dengan Rp. 85.000 rupiah. Etik juga mengemas aneka keripiknya ini dengan bungkusan yang lebih kecil, berukuran 175 gram dengan harga Rp. 13.000 hingga Rp. 15.000 per bungkus.

Namun Etik tidak menampik jika saat ini produksi keripik sayurannya sedikit menurun. Bahkan beberapa produk keripik sayur buatannya terpaksa dihentikan karena harga bahan baku yang melambung tinggi. Etik menyebutkan, daun seledri yang semula hanya Rp. 3.000 kini naik menjadi Rp. 15.000 per kilogram. Belum lagi gas LPG yang kian langka akhir-akhir ini dan biaya pengiriman yang meroket pascakenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. “Semua serba naik dan terus terang kami bingung untuk menentukan harga jual produk kami. Sementara ini kami bikin keripik sesuai order saja dulu,” pungkas Etik. (CW)

DAPATKAN INFO TERBARU SHARING BLOG
Masukkan Alamat Email Anda untuk Dapatkan Info Terbaru Mengenai Sharing Blog
# Data Email Anda Tidak Akan Disebarluaskan #

Leave A Reply

Your email address will not be published.