Banyaknya Gerai Belum Menjamin Keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih

Image: Chat GPT

Data terbaru yang dirilis Perupadata menunjukkan bahwa Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan jumlah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) terbanyak di Pulau Kalimantan, yakni mencapai 2.156 unit.

Di bawahnya terdapat Kalimantan Selatan dengan 2.013 koperasi, Kalimantan Tengah sebanyak 1.543 koperasi, Kalimantan Timur 1.037 koperasi, dan Kalimantan Utara 411 koperasi.

Angka tersebut memang memberikan kesan bahwa Kalimantan Barat menjadi daerah yang paling progresif dalam membangun infrastruktur kelembagaan ekonomi desa.

Namun, jika dilihat dari perspektif bisnis dan keberlanjutan usaha, jumlah bangunan atau gerai bukanlah indikator utama keberhasilan sebuah koperasi.

Sebagai seseorang yang pernah mendampingi implementasi Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Kubu Raya, saya justru melihat tantangan terbesar bukan berada pada pembangunan fisik, melainkan pada kemampuan koperasi menghasilkan aktivitas ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.

Membangun Gedung Relatif Mudah, Membangun Bisnis Jauh Lebih Sulit

Di Kalimantan Barat, persoalan penyediaan lahan sebenarnya bukan hambatan utama.

Berbeda dengan wilayah perkotaan yang memiliki harga tanah tinggi, sebagian besar desa masih memiliki ruang yang cukup luas sehingga pembangunan gerai koperasi relatif mudah direalisasikan.

Artinya, berdirinya ribuan gerai bukan sesuatu yang mengejutkan.

Yang justru perlu menjadi perhatian adalah apa yang terjadi setelah bangunan selesai.

Sebuah gerai koperasi tidak akan menghasilkan manfaat ekonomi hanya karena memiliki bangunan permanen. Bangunan hanyalah aset tetap.

Nilai ekonominya baru muncul apabila di dalamnya terjadi transaksi, distribusi barang, pelayanan masyarakat, hingga perputaran modal kerja yang sehat.

Di sinilah ukuran keberhasilan sesungguhnya dimulai.

Tantangan Sesungguhnya Baru Dimulai Saat Gerai Dioperasikan

Tahap berikutnya adalah pengoperasian gerai yang direncanakan melibatkan Agrinas bersama para Manajer SPPI yang saat ini masih menjalani pendidikan dan pelatihan.

Baca Juga:  4 Calon Manajer SPPI Gugur, Satu Catatan dari Seorang Mantan Business Assistant

Model ini tentu memiliki tujuan baik, yaitu menghadirkan manajemen yang lebih profesional di desa. Namun demikian, proses pembelajaran tetap membutuhkan waktu.

Pertanyaan besarnya bukan apakah mereka mampu membuka toko.

Pertanyaannya adalah apakah mereka mampu menjalankan bisnis koperasi yang menghasilkan laba operasional secara konsisten.

Mengelola koperasi tidak hanya berarti menjaga stok barang.

Manajer harus mampu:

  • Membaca kebutuhan pasar desa;
  • Mengendalikan biaya operasional;
  • Menjaga perputaran persediaan;
  • Mengelola arus kas;
  • Menekan piutang macet;
  • Membangun jaringan pemasok yang efisien; serta
  • Meningkatkan volume transaksi setiap bulan.

Kemampuan tersebut umumnya diperoleh melalui pengalaman mengelola usaha, bukan hanya melalui pelatihan singkat.

Margin Menjadi Kata Kunci

Dalam dunia ritel, omzet yang besar belum tentu menghasilkan keuntungan.

Sebaliknya, omzet yang sedang tetapi memiliki margin sehat justru lebih mampu menjaga keberlangsungan usaha.

Jika KDMP nantinya hanya berfungsi sebagai toko sembako biasa, maka margin keuntungan yang diperoleh relatif tipis.

Pada banyak komoditas kebutuhan pokok, margin kotor sering kali hanya berada pada kisaran 5–10 persen.

Setelah dikurangi biaya tenaga kerja, listrik, distribusi, penyusutan aset, dan biaya operasional lainnya, laba bersih dapat menyusut menjadi hanya sekitar 1–3 persen.

Dalam kondisi seperti itu, koperasi harus menghasilkan volume transaksi yang tinggi agar biaya tetap dapat tertutupi.

Apabila target transaksi tidak tercapai, gerai akan mengalami tekanan terhadap arus kas. Pada akhirnya, koperasi berpotensi hanya mampu bertahan secara administratif tanpa benar-benar sehat secara bisnis.

Dua Tahun Pertama Menjadi Periode Penentuan

Menurut saya, dua tahun pertama akan menjadi fase paling krusial.

Periode ini akan menunjukkan apakah model bisnis KDMP benar-benar mampu berjalan atau hanya bergantung pada dukungan program pemerintah.

Baca Juga:  UMKM: Terlalu Banyak Program, Terlalu Sedikit yang Naik Kelas

Ada beberapa indikator yang layak menjadi perhatian selama masa tersebut:

  • Apakah omzet meningkat secara konsisten;
  • Apakah persediaan berputar dengan cepat;
  • Apakah koperasi mampu menghasilkan surplus usaha;
  • Apakah biaya operasional dapat ditutup dari pendapatan usaha; dan
  • Apakah koperasi mulai mandiri tanpa ketergantungan pada bantuan eksternal.

Jika indikator-indikator tersebut menunjukkan tren positif, maka program memiliki fondasi yang kuat untuk berkembang.

Sebaliknya, apabila koperasi terus bergantung pada intervensi dari luar, maka keberlanjutan jangka panjang patut dipertanyakan.

Jangan Terjebak pada Indikator Kuantitas

Dalam banyak program pembangunan, keberhasilan sering diukur berdasarkan jumlah bangunan yang selesai dibangun.

Padahal dalam perspektif bisnis, indikator yang lebih penting adalah produktivitas aset tersebut.

Gerai yang megah tetapi sepi transaksi tidak akan memberikan dampak ekonomi yang berarti bagi masyarakat desa.

Sebaliknya, gerai sederhana dengan aktivitas usaha yang tinggi justru mampu menciptakan perputaran ekonomi lokal, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan anggota koperasi.

Karena itu, evaluasi terhadap Program Koperasi Desa Merah Putih sebaiknya mulai bergeser dari pendekatan kuantitatif menuju pendekatan kinerja usaha.

Penutup

Kalimantan Barat layak diapresiasi karena menjadi provinsi dengan jumlah Koperasi Desa Merah Putih terbanyak di Pulau Kalimantan.

Namun, capaian tersebut seharusnya dipandang sebagai titik awal, bukan ukuran akhir keberhasilan.

Keberhasilan program ini tidak akan ditentukan oleh berapa banyak gerai yang berhasil dibangun, melainkan oleh kemampuan setiap koperasi menciptakan bisnis yang sehat, menghasilkan margin yang memadai, menjaga arus kas tetap positif, dan memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat desa.

 

Ketika Agrinas bersama para Manajer SPPI mulai mengoperasikan ribuan gerai tersebut, tantangan sebenarnya baru dimulai.

Dua tahun ke depan akan menjadi ujian apakah investasi besar dalam pembangunan kelembagaan ini mampu bertransformasi menjadi ekosistem bisnis desa yang berkelanjutan, atau justru berhenti pada pencapaian fisik semata.

Baca Juga:  Syuriyah PBNU Minta KH Cholil Staquf Mundur Dalam Tempo Tiga Hari

Pada akhirnya, sejarah akan lebih mengingat koperasi yang mampu bertahan dan berkembang daripada sekadar menghitung berapa banyak bangunan yang pernah diresmikan. (DW)

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More