Aplikasi Kite Antar, Kolaborasi Putra Daerah Menghasilkan Platform Transportasi Online
Pemerintah Kota Pontianak resmi memberikan dukungannya terhadap operasional Kite Antar, aplikasi transportasi online lokal karya anak daerah Kalimantan Barat.
Dukungan tersebut ditandai dengan pelepasan rombongan Mitra Kite Antar di Halaman Kantor Wali Kota Pontianak pada Kamis (30/7/2026).
Bukti Nyata Kemampuan SDM Lokal
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Pontianak, Syamsul Akbar, menyampaikan bahwa kehadiran platform ini menjadi bukti nyata kemampuan SDM lokal dalam menciptakan inovasi berbasis teknologi yang berkualitas.
“Kami sangat mendukung Kite Antar sebagai karya putra-putri daerah. Kehadirannya diharapkan memberikan kemudahan layanan transportasi yang terjangkau bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan para mitra pengemudi,” ujar Syamsul.
Syamsul menyoroti keunggulan sistem bagi hasil yang diterapkan Kite Antar karena dinilai lebih berpihak kepada mitra pengemudi.
Selain itu, strategi pembatasan jumlah mitra juga diterapkan untuk menjaga kestabilan pendapatan para driver.
Potongan Biaya Layanan 5 Persen
Sementara itu, Manager Operasional PT Kite Antar Teknologi, Yudhiansyah, menjelaskan bahwa pihaknya hanya mengenakan potongan biaya layanan sebesar 5 persen tanpa biaya tambahan lain, baik untuk mitra pengemudi maupun mitra merchant (pelaku usaha).
“Potongan yang jauh lebih kecil ini membuat pendapatan pengemudi lebih optimal dan harga yang dibayar konsumen menjadi lebih murah. Untuk merchant, potongan 5 persen juga tidak memangkas keuntungan mereka,” jelas Yudhiansyah.
Dikembangkan oleh tim gabungan dari berbagai wilayah di Kalbar—seperti Pontianak, Singkawang, Sambas, Pemangkat, Tebas, hingga Sintang—Kite Antar kini telah menggaet sekitar 200 mitra pengemudi dan puluhan merchant.
Saat ini, aplikasi Kite Antar sudah dapat diunduh secara gratis melalui Google Play Store dan Apple App Store.
Ujicoba Instal Aplikasi Kite Antar
Begitu mengetahui informasi mengenai kehadiran aplikasi Kite Antar dari laman website Pemkot Pontianak, Blogger Borneo langsung mencoba menginstal aplikasi tersebut dan mendaftar sebagai pengguna jasa.
Berikut ini rekaman video ketika Blogger Borneo melakukan instalasi sekaligus mendaftar sebagai pengguna Kite Antar:
@pendampingbisnis Salah Satu Perusahaan StartUp Kalimantan Barat Kembali Meluncurkan Aplikasi #KiteAntar Beberapa Waktu Lalu. Tanpa Pikir Panjang Langsung Search Apps nya dan Instal untuk Kemudian Lanjut ke Proses Pendaftaran. #AffiliateTikTok #BloggerBorneo #UMKM #BusinessAssistant
Di kesempatan yang sama, Blogger Borneo mencoba untuk langsung menggunakan jasa pengantaran orang yang disediakan oleh aplikasi Kite Antar, namun tidak mendapat respon.
Ya bisa saja karena masih baru, sistem Kite Antar belum optimal dalam proses menerima pemesanan secara online melalui aplikasi.
Blogger Borneo mencoba sampai 3 (tiga) kali namun tetap tidak mendapat respon dari drivernya, untuk biaya pengantaran setelah di cek dengan aplikasi kuning sebelah ternyata sama yaitu 17 ribu rupiah.
Kesimpulan
Peluncuran aplikasi transportasi online Kite Antar sebagai karya anak daerah Kalimantan Barat mendapat dukungan penuh dari Pemkot Pontianak.
Aplikasi Kite Antar mengusung skema bisnis yang berpihak kepada mitra melalui potongan biaya layanan hanya sebesar 5 persen bagi pengemudi dan merchant, serta menjanjikan tarif yang lebih terjangkau bagi konsumen.
Potensi daya saing platform lokal ini pun terbukti dari hasil uji coba langsung oleh Blogger Borneo, di mana besaran tarif yang ditawarkan terhitung kompetitif dan setara dengan kompetitor utama di pasaran, yaitu sebesar Rp17.000 untuk rute yang diuji.
Kendati demikian, sebagai aplikasi yang baru meluncur, Kite Antar masih menghadapi tantangan pada kesiapan teknis dan operasional di lapangan.
Hal ini terlihat dari percobaan pemesanan layanan pengantaran orang yang dilakukan sebanyak tiga kali namun belum membuahkan respon dari pengemudi, menandakan bahwa sistem penerimaan pesanan online maupun ketersediaan armada aktif di aplikasi masih memerlukan optimasi lebih lanjut agar dapat beroperasi secara maksimal. (PB)



