Menjadi Sukses adalah Impian, Menjadi Blogger adalah Pilihan.

Ketika Nasionalisme Dinilai dengan Uang

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Ma Chung Blog Competition 2010. Dengan tema lomba Indonesiaku Bukan Indonesia-indonesiaan, saya mencoba untuk mengambil bahan tulisan dari kasus yang sedang banyak terjadi saat ini yaitu KORUPSI. Sudah tidak dapat dipungkiri, Indonesia Raya sekarang telah masuk dalam jajaran negara terkorup di dunia. Mulai dari staf tingkatan paling bawah hingga pejabat yang duduk di singgasana kehormatan diatas sana pada umumnya pernah melakukan apa yang dinamakan praktek KORUPSI. Tidak dapat dihitung lagi berapa jumlah uang rakyat yang hilang demi memenuhi nafsu dan keinginan mereka.

Apakah selama ini mereka tidak berpikir bahwa uang yang mereka gerogoti itu merupakan uang rakyat yang sejak awal akan digunakan untuk mensejahterakan rakyat. Mungkin bagi mereka nilai satu atau dua miliar hanya cukup untuk memenuhi nafsu dan keinginan mereka sendiri, namun jika digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup para rakyat jelata, berapa ribu kepala yang dapat terpenuhi kebutuhannya dari uang tersebut? Pikiran kotor dan tamak telah memenuhi isi pikiran mereka sehingga jika diberi pertanyaan seperti itu, mereka hanya akan menjawab: “Emangnya gue pikirin…”.

Kemerdekaan yang telah kita raih pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai salah satu bukti nyata hasil perjuangan para pahlawan pada saat itu hanya dipandang sebelah mata bagi sebagian oknum koruptor yang dengan tenangnya terus mengeruk uang negara untuk memperkaya diri sendiri. Air mata, keringat, serta ceceran darah yang telah tumpah di tanah tumpah darahku ini bagi mereka tidak memiliki makna apa-apa. Jiwa nasionalisme yang selama ini terus digaung-gaungkan hanya dianggap mereka sebagai angin lalu, sungguh ironis memang. Namun itulah keadaan yang terjadi sekarang, kita yang merasa sebagai rakyat jelata hanya bisa mengelus dada melihat tingkah dan kelakuan mereka yang sama sekali tidak mencerminkan sikap kepedulian terhadap negeri ini.

Tidak dapat dibayangkan bagaimana jika seandainya para pejuang-pejuang kita terdahulu melihat keadaan negara Indonesia Raya yang telah mereka perjuangkan dengan seluruh jiwa dan raga, saat ini sedang merasakan “sakit” karena terus digerogoti oleh para tikus-tikus negara. Kalau dulu ketika Indonesia belum merdeka, penjajah yang dihadapi berasal dari negara-negara lain seperti Belanda dan Jepang. Kalau sekarang ketika Indonesia Raya telah merdeka, justru penjajah yang dihadapi berasal dari kita sendiri yaitu oknum-oknum koruptor tersebut. Bagaimana Indonesia Raya mau maju dan berkembang jika dari dalamnya sendiri seperti itu. Lihat saja pemberitaan di media cetak dan elektronik, berapa orang pejabat yang sekarang harus mendekam dalam tahanan karena ulah mereka sendiri. Itu baru pejabat yang ketahuan, yang belum ketahuan masih berapa banyak lagi? Benar tidak???.

Memang tidak dapat dipungkiri, daya tarik lingkungan dan sistem yang telah berjalan sejak turun temurun terkadang membuat mereka terjebak dalam situasi seperti itu. Makanya ada gurauan yang mengatakan: Kalau Tidak Mau Korupsi, Jangan Jadi Pejabat atau Pegawai Negeri Sipil alias PNS. Kedengaran ekstrim memang, namun saya tetap yakin diantara para pejabat kita diatas sana masih memiliki jiwa nasionalisme yang murni sehingga ikhlas dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai wakil rakyat yang terus amanah terhadap suara rakyat. Bagi yang merasa melakukan korupsi, biarlah uang yang akan terus membudakkan mereka sehingga harga diri dan rasa nasionalisme yang mereka miliki nilainya serendah dengan uang yang telah mereka gerogoti. (DW)

NB : Tulisan ini telah terpilih menjadi salah satu diantara 27 peserta kategori Umum yang berhak memperoleh hadiah hiburan berupa hosting gratis dengan kapasitas 250 mb yang dipersembahkan oleh JagoanHosting.Com.

DAPATKAN INFO TERBARU SHARING BLOG
Masukkan Alamat Email Anda untuk Dapatkan Info Terbaru Mengenai Sharing Blog
# Data Email Anda Tidak Akan Disebarluaskan #

Leave A Reply

Your email address will not be published.