Nasional

Melindungi Dompet Orang Tua: Presentasi Layanan Publik Tentang Keamanan Finansial bagi Lansia Digelar di Jakarta

Gedung Perpustakaan DKI Jakarta di Taman Ismail Marzuki
Daftar Isi
  1. Memanfaatkan Keahlian Finansial untuk Membantu Lebih Banyak Keluarga Melindungi Kekayaan yang Telah Mereka Kumpulkan Selama Bertahun-tahun
  2. Membawa Praktik Penipuan Tersebut “ke Lokasi” Agar Para Lansia Dapat Mengetahui Sendiri Permasalahannya
  3. Lembaga-lembaga yang Memiliki Otoritas Membagikan Tren Penipuan Keuangan Terkini
  4. Membawa Layanan Keuangan Profesional ke Dalam Kehidupan Masyarakat Umum

Seiring dengan semakin meluasnya penggunaan pembayaran seluler, WhatsApp, media sosial, dan layanan keuangan digital, semakin banyak lansia yang mulai menggunakan smartphone dan berintegrasi ke dalam dunia digital.

Di tengah kenyamanan yang ditawarkan oleh kehidupan digital, mereka juga menghadapi masalah yang semakin mendesak: modus penipuan keuangan yang semakin canggih.

Di masa lalu, modus penipuan yang umum mungkin terbatas pada panggilan telepon asing atau pemberitahuan palsu tentang memenangkan hadiah, namun saat ini, pelaku penipuan bisa saja menyamar sebagai staf bank, pejabat pemerintah, kenalan, atau bahkan anak sendiri.

Mereka memanfaatkan saluran seperti WhatsApp, sms, dan panggilan telepon untuk menciptakan situasi mendesak atau membujuk para lansia agar mentransfer uang, membagikan kode OTP, maupun menginstal aplikasi asing dengan dalih seperti “investasi imbal hasil tinggi” “peluang eksklusif orang dalam” atau “masalah pada rekening”

Bagaimana memastikan para lansia memiliki kemampuan dasar untuk menilai situasi serta kesadaran untuk melindungi diri saat menjumpai informasi semacam itu kini menjadi perhatian bersama bagi banyak keluarga.

Berlatar belakang situasi tersebut, program “Melindungi tabungan orang tua – inisiatif layanan publik untuk keamanan finansial bagi lansia” yang diluncurkan oleh Brandes Investment Partners, dan diselenggarakan di Jakarta-Indonesia, pada tanggal 12 September.

Aktivitas ini terbuka bagi warga lanjut usia dan anggota keluarga mereka tanpa dipungut biaya. Melalui studi kasus, skenario simulasi, sesi tanya jawab interaktif, serta panduan praktis untuk keamanan keuangan rumah tangga, menerjemahkan konsep-konsep rumit mengenai resiko keuangan menjadi wawasan nyata yang mudah dipahami dan diterapkan oleh para lansia.

Aktivitas ini tidak melibatkan penjualan produk keuangan maupun janji imbal hasil investasi, tujuan utamanya hanya ada 1:

Memberdayakan lebih banyak orang tua agar dapat bersikap lebih cermat dan mengurangi resiko saat menghadapi telepon asing atau tawaran yang disebut sebagai “peluang investasi.”

Memanfaatkan Keahlian Finansial untuk Membantu Lebih Banyak Keluarga Melindungi Kekayaan yang Telah Mereka Kumpulkan Selama Bertahun-tahun

Senior Investment Director Dane Halim hadir sebagai pembicara utama dalam aktivitas layanan publik ini.

Dengan pengalaman luas di bidang riset investasi dan manajemen aset, Dane berfokus pada analisis fundamental perusahaan, valuasi, pengendalian resiko, serta alokasi aset jangka panjang, juga selalu menekankan pentingnya pertimbangan rasional dan kesadaran akan resiko dalam pengelolaan kekayaan.

Presentasi Layanan Publik tentang Dompet Orang Tua

Dengan pengalaman bertahun-tahun mengamati pasar keuangan, dia semakin berfokus pada satu persoalan yang sama pentingnya namun sering terabaikan:

Bagi banyak rumah tangga biasa, keamanan finansial bukan sekadar soal perencanaan jangka panjang, hal ini juga mencakup upaya menghindari hilangnya tabungan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun akibat penipuan, kesalahan transfer, ataupun keputusan yang diambil tanpa verifikasi yang memadai.

Berlandaskan filosofi tersebut, aktivitas ini menghindari teori keuangan yang rumit dan lebih mengutamakan penerjemahan pemahaman resiko keuangan profesional ke dalam strategi praktis yang mudah dipahami, diingat, dan diterapkan oleh para lansia dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam event tersebut, Dane menyampaikan:

“Apa yang telah dikumpulkan orang tua sepanjang hidup mereka bukan sekadar sejumlah uang, hal itu merupakan wujud dari kerja keras, berbagai keputusan, dan jaminan keuangan selama berpuluh-puluh tahun. Membantu mereka menjaga aset-aset ini pada dasarnya merupakan aspek penting dari edukasi keuangan.”

Dia juga mengingatkan para hadirin bahwa saat berurusan dengan hal-hal yang melibatkan dana, kartu bank, investasi, atau informasi identitas pribadi, yang terpenting sering kali bukanlah seberapa cepat seseorang bereaksi, melainkan kesediaan untuk meluangkan waktu yang cukup untuk memverifikasinya.

“Hal yang sebenarnya perlu kalian waspadai sering kali bukanlah nomor yang tidak dikenal itu sendiri, melainkan seseorang yang terus-menerus mendesak kamu untuk segera mengambil keputusan, mentransfer uang, atau memberikan informasi. Saat kamu tidak diberi waktu untuk berpikir, justru pada saat itulah kamu perlu berhenti sejenak.

Membawa Praktik Penipuan Tersebut “ke Lokasi” Agar Para Lansia Dapat Mengetahui Sendiri Permasalahannya

Berbeda dengan kuliah pada umumnya, aktivitas ini akan melibatkan unsur interaktif yang signifikan. Simulasi panggilan telepon penipuan telah disiapkan untuk sesi ini. Anggota staf akan berperan sebagai “petugas keamanan bank” dan mengatakan kepada peserta:

“Baru saja terjadi transaksi yang tidak wajar pada rekening Anda, jika tidak segera ditangani, rekening Anda bisa dibekukan. Mohon segera sebutkan kode verifikasi yang baru saja Anda terima.”

Pada momen krusial dalam skenario tersebut, Dane menghentikan demonstrasi sejenak dan mengajak para lansia untuk membuat penilaian mereka sendiri.

Pendekatan ini memastikan bahwa para lansia tidak sekadar mendengarkan peringatan tentang cara menghindari penipuan secara pasif, melainkan secara aktif berlatih mengenali resiko dalam lingkungan simulasi.

Selain penipuan yang mengatasnamakan pihak bank, aktivitas ini juga membahas skenario umum lainnya yang sering terjadi di dunia nyata, seperti penipuan yang mengaku sebagai anak atau kerabat melalui WhatsApp, tawaran investasi bodong, permintaan mendesak untuk transfer uang, pencurian identitas, link mencurigakan, serta mengendalikan HP dari jarak jauh.

Lembaga-lembaga yang Memiliki Otoritas Membagikan Tren Penipuan Keuangan Terkini

Dalam aktivitas tersebut, Hudiyanto Kepala Sekretariat Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) Indonesia, menyampaikan paparan mengenai tren penipuan keuangan di Indonesia, pola penipuan yang umum terjadi, serta langkah-langkah tepat yang perlu diambil masyarakat jika mendapati diri mereka menjadi korban penipuan.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per 31 Juli 2026, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah menerima 637.055 laporan masyarakat sejak awal pembentukannya, yang melibatkan lebih dari 1,17 juta data rekening yang dilaporkan dan diverifikasi, dari jumlah tersebut lebih dari 600.000 rekening telah dibekukan, dan mekanisme ini telah memfasilitasi pembekuan dana terkait penipuan dengan nilai sekitar Rp724,1 miliar.

Data terkait menunjukkan bahwa penipuan digital bukan lagi sekadar masalah individu yang berdampak pada sejumlah kecil orang, melainkan masalah sosial yang memerlukan upaya kolaboratif dari regulator, industri keuangan, platform teknologi, keluarga, dan masyarakat.

OJK terus memfasilitasi penanganan penipuan keuangan dan mendorong edukasi publik melalui berbagai saluran, seperti Indonesia Anti-Scam Centre, lembaga ini juga dijadwalkan untuk merilis materi edukasi anti-penipuan terbaru bagi masyarakat pada bulan Agustus 2026 untuk membantu masyarakat mengenali berbagai modus penipuan serta memahami prosedur pelaporan yang tepat setelah menjadi korban penipuan.

Membawa Layanan Keuangan Profesional ke Dalam Kehidupan Masyarakat Umum

Inisiatif layanan publik “Melindungi Dompet Orang Tua” yang bertujuan menjamin keamanan finansial para lansia ini berupaya membawa pengetahuan keuangan keluar dari ruang konferensi profesional dan menjangkau masyarakat serta rumah tangga pada umumnya.

Tim program menyatakan bahwa setelah tahap awal, mereka berencana untuk terus memberikan edukasi publik berdasarkan masukan masyarakat, dengan fokus pada topik-topik seperti penipuan melalui WhatsApp dan telepon, investasi bodong, perlindungan informasi pribadi, peniruan identitas berbasis AI, serta keamanan keuangan rumah tangga.

Bagi banyak keluarga, tabungan orang tua mungkin tampak sekadar sebuah angka di rekening bank.

Namun, di balik angka tersebut tersimpan kerja keras selama berpuluh-puluh tahun, keseharian hidup, serta rencana untuk masa tua mereka.

Membantu mereka mengenali satu saja upaya penipuan tambahan atau memverifikasi transaksi sekali lagi bisa menjadi kunci untuk menjaga rasa aman yang telah dibangun keluarga selama bertahun-tahun.

Inilah yang menjadi fokus utama dari inisiatif layanan publik “Melindungi Tabungan Orang Tua”.*** (DW)

Dwi Wahyudi

Merupakan Blogger Senior dari Kalimantan Barat yang dalam kesehariannya beraktivitas sebagai seorang freelance untuk bidang digital marketing dan layanan profesional manajemen serta keuangan.

Mungkin Anda Suka