Membongkar Mitos Keturunan Miskin: Mengapa Pekerja Keras Tetap Hidup Pas-pasan?
Malam itu, di kediaman saya daerah Gondokusuman, Jogja, sebuah perbincangan mendalam tercipta bersama Pak Damai—seorang pengemudi ojek online (ojol) yang baru saja mengantar saya dari Seturan.
Di balik seragam hijaunya, pria 50 tahun beranak tiga ini memiliki wawasan yang luar biasa luas.
Perbincangan hangat kami soal sejarah Nusantara berlanjut hingga larut malam setelah saya mempersembahkan salah satu buku novel karya saya untuknya.
Namun, di balik kecerdasannya, kehidupan ekonomi Pak Damai teramat menghimpit.
Narasi Jerat Keringat 15 Jam
Kehidupan Pak Damai dan keluarganya adalah potret nyata perjuangan kelas bawah:
-
Jam Kerja Ekstrem: Memacu sepeda motor matic-nya dari pukul 06.00 pagi hingga 21.00 malam (15 jam sehari), tanpa kenal hari libur.
-
Bantu Perekonomian: Sang istri turut menopang dapur dengan membuka warung kelontong memanfaatkan ruang tamu mereka yang sempit.
-
Gali Lubang Tutup Lubang: Meski telah memeras keringat sekuat tenaga, hasilnya hanya cukup untuk urusan perut. Saat uang pangkal sekolah dan kuliah anak-anaknya menagih, utang menjadi satu-satunya jalan keluar.
Saat menatap langit malam, amarah Pak Damai pecah. Ia mengutuk deretan pejabat, penegak hukum, dan elite politik yang korup.
Bagi Pak Damai, dunia sungguh tak adil: mereka yang duduk di kursi empuk dapat menumpuk harta dengan mudah, sementara ia harus terbakar di atas aspal demi menyambung hidup.
Ketika saya bertanya mengapa ia bisa berada di kondisi ini, Pak Damai menarik napas panjang dan menjawab lirih, “Mungkin sudah takdir, Mas.”
Menolak Mitos Takdir: Perumpamaan Emas di Bawah Tanah
Jawaban Pak Damai adalah kepasrahan umum yang sering kita dengar. Namun, kemiskinan Pak Damai bukanlah kegagalan personal, malas bekerja, ataupun takdir yang tak bisa diubah.
Untuk menjelaskan konsep ini, saya memberikan sebuah perumpamaan sederhana:
Bayangkan jika di bawah lapangan perumahan ini tertanam bongkahan emas melimpah. Jika Anda diperbolehkan mengambil sedikit saja, emas itu bisa ditukar dengan bibit dan hewan ternak. Ternak berkembang biak, tanaman dipanen, dan Anda pun sejahtera.
Namun, aturan dan hukum yang ada sengaja melarang Anda menyentuhnya. Regulasi tersebut justru memberikan akses eksklusif pengambilan emas hanya kepada satu orang kaya dari luar perumahan.
Orang kaya tersebut membawa emasnya ke pusat kota, membelanjakannya untuk aset produktif, dan menjadi bertambah kaya raya. Sementara Anda? Anda tetap dipaksa narik ojol 15 jam sehari hanya untuk sekadar bertahan hidup.
Bukan karena Pak Damai tidak mampu atau malas mengelola sumber daya, melainkan aksesnya yang sengaja ditutup rapat oleh aturan.
Hakikat Kemiskinan Struktural
Apa yang dialami Pak Damai adalah cerminan dari Teori Kemiskinan Struktural.
Selama puluhan tahun, narasi dominan selalu menyalahkan korban (blaming the victim)—menuduh rakyat miskin sebagai kelompok yang tidak berpendidikan, malas, atau kurang berinovasi.
Narasi ini sengaja dipelihara oleh kelas penguasa agar masyarakat menganggap kemiskinan sebagai takdir atau kegagalan pribadi semata.
Sosiologi membongkar kebohongan narasi tersebut: Kemiskinan diproduksi secara masif oleh tatanan sistem dan kebijakan publik yang tidak adil.
[ KELOMPOK OLIGARKI / MAFIA RENTE ]
│
Memanfaatkan Hukum & Regulasi
▼
[ Penguasaan Sumber Daya Alam & Modal ]
│
Memutus Akses Rakyat Kecil
▼
[ KEMISKINAN STRUKTURAL (Jutaan Pak Damai) ]
Realita yang Harus Diubah
Persoalan sistemik yang berlangsung selama lebih dari 60 tahun ini menunjukkan pola yang konsisten:
-
Perampasan Hak Sumber Daya: Kekayaan alam (tambang, laut, hutan, tanah) yang harusnya dikelola untuk pendidikan gratis dan modal warga, justru disedot untuk memperkaya segelintir elite di pusat kekuasaan.
-
Keterbatasan Akses Modal: Rakyat kecil menutup hari dengan keputusasaan karena tidak pernah diberi kesempatan atau ruang untuk mengakses sumber modal yang adil.
-
Negara yang Terkooptasi: Pemerintah yang seharusnya berfungsi membagikan kemakmuran secara merata, bergeser peran menjadi pelayan kepentingan oligarki.
Kesimpulan
Kemiskinan yang dialami oleh Pak Damai dan jutaan rakyat lainnya bukanlah takdir yang turun dari langit, melainkan hasil desain dari sekumpulan manusia serakah yang memanfaatkan regulasi untuk memiskinan rakyat banyak.
Jika tatanan yang timpang ini tidak dirombak secara radikal dan progresif, maka jutaan “Pak Damai” lainnya akan terus memeras keringat di atas aspal panas, menjerat diri dalam kecemasan utang, dan diwarisi kemiskinan hingga akhir hayat.
Kita tidak miskin karena kita malas. Kita miskin karena sistem yang ada memang dirancang untuk memiskin dan menyingkirkan kita. (PB)
Ditulis kembali dari status opini Bung Ben.



