Dampak Industri Kehutanan bagi Perkembangan Indonesia di Mata Sukanto Tanoto

Industri Kehutanan memiliki potensi yang sangat besar. Ini yang diketahui oleh pengusaha pendiri Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto. Oleh sebab itu, ia dengan gencar selalu mendorong perkembangannya agar Indonesia merasakan manfaatnya.

Secara garis besar, industri kehutanan dapat dilihat sebagai bisnis pemanfaatan potensi alam. Bidang ini tidak terbatas hanya memanfaatkan hasil-hasil hutan belaka. Namun, sektor perkebunan sebenarnya masuk ke dalam bagiannya.

Ketika dirunut, produk yang dihasilkan tidak hanya kayu. Masih banyak komoditas lain yang merupakan buah dari industri kehutanan. Contohnya adalah kertas, kayu lapis, bubur kertas (pulp), furnitur kayu, kayu olahan, serpih kayu, kerajinan kayu, veneer, bangunan prefab, partikel board, dan masih banyak produk kayu lain.

Bidang ini tidak bisa dipandang remeh. Sebab, kalau dikelola dengan baik, dampak yang dihadirkan bagi perkembangan Indonesia sangat positif. Ini disadari oleh berbagai pihak mulai dari pemerintah hingga pelaku usaha seperti Sukanto Tanoto. Oleh sebab itu, mereka bahu-membahu mendorong kemajuan industri kehutanan dalam negeri.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Sugiono mengatakan industri kehutanan pantas disebut sebagai sektor unggulan strategis bagi negara. Hal itu dikatakannya karena beragam alasan.

Pertama terkait dengan sumber daya hutan yang melimpah. Hal ini sudah tidak menjadi rahasia lagi. Tanah yang subur dengan iklim tropis membuat tanaman mudah tumbuh di Indonesia. Kondisi itu membuat hasil hutan sangat banyak sehingga layak dimanfaatkan.

Selanjutnya terkait dengan serapan tenaga kerja. Industri kehutanan mampu menyerap pekerja dalam jumlah tinggi. Dipaparkan oleh Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Irsyal Yasman, jumlah tenaga kerja di sektor kehutanan pada 2016 sudah mencapai 9,4 juta orang. Jumlah yang tentu tidak bisa dipandang remeh.

Faktor yang tak kalah penting adalah kemampuan membuka akses di daerah terisolasi yang dimiliki industri kehutanan. Sektor ini memiliki kelebihan unik dibanding bidang lain. Perkembangannya selalu dilakukan di daerah-daerah terpencil. Ini berdampak positif bagi perkembangan daerah tersebut.

Satu lagi kontribusi penting industri kehutanan adalah kandungan lokal yang tinggi dalam proses produk olahan. Ini dikarenakan bahan baku merupakan hasil bumi di Indonesia. Akibatnya kandungan produk mencerminkan ciri khas bangsa, yakni sumber daya alam yang melimpah.

Alhasil, wajar kalau industri kehutanan layak dikelola lebih serius. Potensinya besar dan memberi sejumlah dampak positif. “Untuk itu diperlukan diperlukan komitmen dan kerja keras para pemangku kepentingan,” kata Sugiono di Bisnis.com.

Pandangan itu senada dengan pemikiran Sukanto Tanoto. Ia menilai industri kehutanan memang pantas dijadikan sektor unggulan dalam perekonomian bangsa.

“Saya yakin di bawah pemerintahan Joko Widodo, dunia usaha, khususnya industri kehutanan, akan lebih baik asalkan pemerintah menyadari dampak yang ada,” ucap Sukanto Tanooto.

Sukanto Tanoto sudah membuktikannya bersama RGE. Berkecimpung di bidang sumber daya alam termasuk industri kehutanan, ia berhasil membesarkan perusahaannya tersebut menjadi korporasi kelas internasional. RGE sekarang menjadi perusahaan multinasional dengan aset 18 miliar dolar Amerika Serikat. Mereka juga mampu menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 60 ribu karyawan. Saat ini, mereka menggeluti lima sektor berbeda, yakni kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, serta minyak dan gas.

Dengan porsi bisnis seperti itu, jelas saja dampaknya bagi perekonomian bangsa sangat besar. Inilah yang hendak ditunjukkan oleh Sukanto Tanoto sehingga semua pihak mau menggarap industri kehutanan supaya lebih baik secara bersama-sama.

BUKTI NYATA DI PANGKALAN KERINCI

Bukti Nyata Keberhasilan Sukanto Tanoto di Pangkalan Kerinci
Image: TribunNews.Com

Sukanto Tanoto mengajak semua pihak untuk mau mengeksplorasi industri kehutanan. Namun, agar pihak lain tertarik, ia tidak asal berbicara. Sebelumnya ia sudah menyodorkan bukti nyata manfaat penting sektor tersebut bagi perkembangan sebuah daerah.

Kawasan itu adalah Provinsi Riau, khususnya daerah Pangkalan Kerinci. Daerah ini merupakan basis utama salah satu anak perusahaan RGE, yakni Grup APRIL. Perusahaan Sukanto Tanoto ini bergerak di industri pulp dan kertas. Kehadiran mereka di sana mampu mengubah kawasan tersebut secara drastis dalam segi positif.

Perlu diketahui, APRIL berdiri pada 1993 di Pangkalan Kerinci. Mereka saat ini menjadi salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia. Saat ini, per tahun APRIL mampu menghasilkan pulp hingga 2,8 juta ton yang dan kertas sebanyak 1,15 juta ton. Kehadiran mereka di Pangkalan Kerinci mampu mendorong perubahan secara signifikan.

Pangkalan Kerinci merupakan sebuah kota kecamatan yang menjadi bagian dari Kabupaten Pelalawan di Provinsi Riau. Area ini terletak sekitar 63,2 km dari Kota Pekanbaru. Dulu sekitar tahun 1990-an, daerah ini hanyalah sebuah desa kecil. Berdasarkan data dari Inside RGE hanya ada sekitar 200 orang yang berdomisili di sana.

Kondisi tersebut jauh berbeda dibanding sekarang. Dulu tidak mudah untuk menuju Pangkalan Kerinci. Saat itu belum ada jalan darat. Kalau ingin ke sini, mau tak mau orang harus menaiki perahu.

Namun, saat ini, kondisi Pangkalan Kerinci berubah sangat baik. Jalanan mulus telah ada. Bahkan, sebuah bandara kecil juga telah dimiliki. Semua itu tak lepas dari kiprah APRIL yang memutar roda bisnis di sini.

APRIL membangun pabrik dan perkebunan sebagai bahan baku pulp dan kertas. Akibatnya banyak tenaga kerja yang terserap. Data dari Unit Penelitian Ekonomi dan Sosial Universitas Indonesia menyebutkan keberadaan perusahaan Sukanto Tanoto ini menyerap sekitar lima ribu karyawan.

Jumlah tenaga kerja yang diserap semakin membengkak ketika kesempatan kerja tak langsung dari APRIL turut diperhitungkan. Saat ini APRIL disebut membuka peluang kerja bagi lebih dari 11.200 kontraktor.

Kehadiran tenaga kerja di APRIL berpengaruh dalam wajah Pangkalan Kerinci. Lihat saja jumlah populasi di Pangkalan Kerinci belakangan ini. Berdasarkan data Inside RGE, per 2015, ada 102.296 orang yang berdomisili di sana. Jauh lebih besar dibanding pada era 1990-an ketika APRIL belum hadir.

Mereka pun bekerja di beragam sektor. Bukan hanya menjadi pegawai APRIL, banyak yang berkiprah dalam bisnis jasa, perdagangan, maupun industri kecil. Komposisi ini jauh berbeda dibanding pada era 1990-an. Saat itu, penduduk Pangkalan Kerinci hanya didominasi oleh petani atau nelayan kecil.

Tentu saja itu sangat luar biasa. Apalagi banyak produk dari APRIL yang diekspor ke luar negeri. Contohnya adalah kertas PaperOneTM yang mereka hasilkan. Sekarang merek kertas premium ini sudah dipasarkan di lebih dari 70 negara.

PaperOneTM juga mampu menjadi kebanggan karena kandungan lokalnya sangat tinggi. Semuanya diproses dari bahan baku dan pengolahan di dalam negeri. Selain itu, kertas itu merupakan bukti ciri khas dari Indonesia, yakni lahan yang subur. Kayu yang menjadi bahan bakunya ditumbuhkan di dalam negeri diolah sehingga menjadi kertas berkualitas.

Inilah yang membuat Sukanto Tanoto yakin bahwa industri kehutanan layak dikembangkan. Kalau semua pihak mau bekerja keras dan bersama-sama menggarapkannya, ia yakin perkembangan bangsa bakal terbantu dengan signifikan. (ADV)

You might also like

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More