Sebagai seorang lulusan jurusan Akuntansi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak, tentu saja bicara mengenai kondisi asap bukanlah kapasitasnya.
Namun karena kondisi ini selalu terjadi setiap tahun sejak belasan tahun lalu dan tampaknya semakin parah, terkadang muncul rasa berontak dalam benak pikiran.
Kondisi Asap, Bencana yang Dibuat Sendiri
Sebenarnya label Pontianak Kota Asap sudah Blogger Borneo sebutkan dalam artikel yang dipublikasikan belasan tahun lalu.
Coba diklik dan dibaca artikel tersebut secara lengkap dan bandingkan dengan kondisi yang sedang dialami sekarang, apa bedanya???
Tapi kembali seperti apa yang telah Blogger Borneo sampaikan diawal bahwa latar belakang pendidikan tidak mendukung untuk membuat opini detail mengenai kondisi ini.
Hingga pada akhirnya, Blogger Borneo melihat share link tulisan dari laman nusantarapost.news dengan judul “Karhutla Sebagai Bencana Tahunan, Penanganan Gambut Tidak Boleh Sekadar Reaktif“.
Tulisan Opini dari Seorang Praktisi
Melihat profil dari penulis artikel opini tersebut, ternyata kenal yaitu Bang Joko Sampurno yang merupakan dosen di Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura.
Dan karena Blogger Borneo melihat tulisannya cukup detail memberikan informasi mengenai kondisi karhutla, maka langsung menghubunginya untuk meminta izin.
Berikut adalah kutipan lengkap yang Blogger Borneo ambil dari laman Nusantara Post News secara lengkap, silahkan dibaca.
==============================
Meroketnya indeks polusi udara hingga level mematikan di Kalimantan Barat membongkar kelemahan fundamental dalam penanganan tata air lahan gambut.
Di balik sesaknya ruang napas warga akibat kabut asap ini, terselip fakta pahit bahwa sistem mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) oleh pemerintah dan pemangku kepentingan dinilai masih berfokus pada respons reaktif pasca kejadian, bukan pencegahan sistemik terpadu.
Joko Sampurno, Kepala Laboratorium Geofisika FMIPA Universitas Tanjungpura, menyoroti secara kritis kebuntuan strategi pemadaman ini di lapangan.
Pengamatan langsungnya bersama tim saat mencari potensi air tanah untuk pembuatan sumur bor di kawasan PT BAI, Mempawah, membuktikan betapa sulitnya menjinakkan api yang telah merambat di ekosistem basah yang mengering.
Meski aparat gabungan TNI-Polri, perusahaan, dan masyarakat telah bahu-membahu menekan laju api, langkah tersebut seringkali menemui jalan buntu.

Joko Sampurno menjelaskan bahwa pada ekosistem lahan gambut, upaya penanganan sering kali hanya sebatas melokalisasi area terbakar karena petugas tidak mampu memadamkan api secara total akibat sifat rambatannya yang tersembunyi di bawah permukaan tanah.
Kondisi gambut yang mengering di bawah permukaan inilah yang menjadi produsen utama kepulan asap pekat yang mengerek indeks kualitas udara pagi hingga sore hari ini.
Untuk memutus rantai polusi yang menahun ini, Joko menegaskan bahwa tata kelola lahan gambut mutlak harus bertumpu pada restorasi hidrologi.
Pembatasan drainase berlebihan yang membuat gambut kerontang harus segera dihentikan dan diganti dengan infrastruktur sekat kanal pengatur muka air tanah.
Joko Sampurno menegaskan bahwa manajemen pencegahan karhutla tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan harus dijalankan secara terpadu dan menyeluruh.
Oleh karena itu, ketika ancaman kekeringan dari fenomena El Nino sudah diprediksi jauh hari, pemerintah selaku komando mitigasi semestinya langsung menerapkan pembasahan gambut dan menyiagakan sumur bor sebelum musim kemarau tiba.
Tanpa perombakan paradigma dari sekadar memadamkan api menjadi menjaga gambut tetap basah secara komprehensif, teror udara beracun di Kalbar dipastikan akan terus menjadi agenda bencana rutinan.
==============================
Kesimpulan
Apa yang bisa diambil kesimpulan setelah membaca tulisan opini dari Bang Joko Sampurno tersebut?
Tentu saja bukan orang-orang seperti Blogger Borneo yang harus menganalisa dan melakukan eksekusi.
Intinya sebagai putra daerah kelahiran Kabupaten Kubu Raya, tidak ingin kondisi ini terjadi dan selalu terjadi.
Hanya orang bodoh yang selalu masuk di lubang yang sama, hanya orang tolol yang tidak pernah belajar dari kondisi sebelumnya.
Hingga pada akhirnya, satu pernyataan Blogger Borneo tuliskan disini adalah KONDISI INI BUKAN BENCANA ALAM TAPI BENCANA YANG DISEBABKAN SENDIRI. (DW)








